Maka kita pun membalas empati-Nya: kalau engkau meludahi wajah manusia, engkau meludahi wajah Allah. Meskipun manusia itu maling, perampok, bandit, koruptor atau apapun jangan ludahi wajahnya. Kalau tak bisa kau pahami bahwa wajah manusia adalah wajah Allah, sekurang-kurangnya engkau pahami wajah manusia adalah karya Allah. Engkau tidak rela lukisan karyamu, makanan masakanmu, atau lembaran fotomu, diludahi oleh siapapun.
Di dalam perjuangan hidup setiap manusia, pancer-nya adalah Allah. Bahkan wujud manusia dikabarkan merupakan semacam replika dari wujud Allah sendiri. Sehingga setiap perilaku, aktivitas dan aktualitas manusia tidak punya kemungkinan lain kecuali merepresentasikan Allah. Maka jangan sekali-sekali menyakiti Allah dengan meludahi wajah-Nya. Jangan memperhinakan-Nya, seberkuasa apapun engkau di muka bumi. Wajah semua manusia dan setiap manusia adalah wajah Allah itu sendiri.
(Qur'anul Hidayat)