PASUKAN keamanan Myanmar menggunakan peluru tajam dalam menghadapi demonstran antikudeta, tindakan yang melanggar peraturan internasional, kata utusan hak asasi manusia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Dalam pertemuan darurat di Jenewa, Swiss, Thomas Andrews mengecam para pemimpin kudeta dan mengatakan "semakin banyak laporan dan bukti foto" terjadinya pelanggaran.
Ia menyerukan sanksi ekonomi dan larangan ekspor senjata ke negara itu.
Demonstrasi terus terjadi Jumat (12/02), dan para pengunjuk rasa tidak mengindahkan seruan panglima militer.
Jendral Min Aung Hlaing menyerukan "persatuan" untuk mencegah "disintegrasi" di tengah hari libur negara itu dalam perayaan Union Day, hari berdirinya negara itu 74 tahun lalu.
Pengunjuk rasa menuntut dibebaskannya para pemimpin yang ditahan termasuk Aung San Suu Kyi.
Dalam pertemuan darurat itu, Andrews - penyelidik kasus HAM PBB untuk Mynamar - mengatakan para penyelidik tidak diizinkan masuk negara itu, dan bukti menunjukkan peluru tajam digunakan dalam menghadapi demonstran.
Andrews mengatakan rakyat Myanmar menumpukan harapan kepada PBB, tidak hanya sekedar pernyataan di atas kertas.
Ia menyerukan kepada PBB - melalui dewan keamanan - untuk mempertimbangkan sanksi ekonomi, larangan ekspor senjata dan larangan perjalanan bagi para pemimpin militer Myanmar.
Seruan PBB ini muncul di tengah laporan bahwa polisi menembakkan peluru karet di Mawlamine.
Momen sebelum penembakan atas demonstran perempuan
BBC mengamati video di media sosial dan berbicara dengan ahli forensik untuk memeriksa bukti-bukti terkait penembakan seorang pengunjuk rasa berusia 19 tahun di Myanmar pekan ini.
"Polisi maju dengan truk. Para pengunjuk rasa mundur. Kami mengawasi dari pinggir jalan."
Mya Tha Toe Nwe, seorang pengunjuk rasa di Myanmar, menceritakan momen sesaat sebelum adik perempuannya ditembak di bagian belakang kepala pada Selasa (09/02) di ibu kota Myanmar, Nay Pyi Taw.
Mya Thwe Thwe Khaing dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Penembakan atas perempuan muda itu menjadi momen penting dalam perjuangan Myanmar untuk demokrasi, menyusul kudeta militer pekan lalu.
Rekaman video insiden tersebut, dan sebuah foto yang menunjukkan perempuan itu dalam keadaan berdarah-darah dan tidak sadarkan diri setelah penembakan, telah banyak dibagikan di media sosial.
Banyak warganet di Myanmar marah akan insiden yang tampaknya merupakan penembakan pertama terhadap warga sipil sejak aksi protes dimulai, dan PBB telah menyatakan khawatir atas tindakan pasukan keamanan.
Tentara mengatakan bahwa hanya proyektil karet, bukan peluru tajam, yang digunakan selama protes dan polisi sedang menyelidikinya.
Jadi apa yang kita ketahui tentang perempuan di video itu? Apa yang dia lakukan saat dia ditembak, dan apakah peluru memang ditembakkan ke arah pengunjuk rasa?
Dengan mengamati foto dan video yang dibagikan di media sosial, serta berbicara kepada ahli forensik, kami memeriksa bukti-bukti seputar penembakan tersebut.