Sunan Kudus mengatakan, bahwa itu akibat dari tindakan Sunan Prawoto yang membunuh Pangeran Sekar Sedo Lepen. Pernyataan itu membuat hati Ratu Kencana dan Sultan Hadirin sakit hati.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Istana Japara, rombongan Ratu Kencana dan Sultan Hadirin dihadang serongpati-serongpati (pembunuh bayaran) utusan Arya Penangsang. Sultan Hadirin terluka parah dan tewas.
Kehilangan dua orang yang dicintai, membuat Ratu Kalinyamat bersedih hati. Ia pun bersumpah akan membalas dendam kematian mereka. Ia bertekad tapa telanjang atau topo wudo dan akan selesai setelah berhasil memakai kapala Haryo Penangsang sebagai alas kaki.
Ia bersumpah: "Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung iso kramas getihe lan kesed jambule Aryo penangsang".
Artinya Ia tidak akan menghentikan laku tapanya jika belum bisa keramas rambut dan darah Aryo Penangsang.
Ratu Kalinyamat melakukan ritual tapa telanjang. Mula-mula, dilakukan di Gelang Mantingan, lalu pindah ke Desa Danarasa, berakhir di tempat Donorojo Tulakan Keling Jepara.
Haryo Penangsang berhasil dibunuh Sultan Pajang , R Hadiwijaya, lewat senapati perang Danang Sutowijoyo (putra Ki Gede Pemanahan).Mereka duel di tepi bengawan sore, antara Cepu dan Blora.
Ritual itu berakhir setelah Sultan Pajang menghadap Ratu Kalinyamat sambil menenteng penggalan kepala Aryo Penangsang dan semangkok darahnya. Kepala Haryo Penangsang digunakan untuk keset oleh Nyi Ratu Kalinyamat, dan darahnya digunakan untuk keramas.
Hadi Priyanto, budayawan di Jepara, mengatakan bahwa kisah pertapaan Ratu Kalinyamat disebut dalam Babad Perang Demak.
Menurutnya, saat bertapa , Ratu Kalinyamat tak benar-benar bertelanjang bulat.
"Itu ungkapan sanepo orang-orang Jawa kuno. Masyarakat menafsirkan ritual topo wudo bertapa sambil melepaskan semua pakaiannya. Padahal "topo wudo "yang dilakukan Ratu Kalinyamat bukan dengan bertelanjang. Melainkan meninggalkan semua atribut kerajaan sebagai Ratu, berbaur dengan masyarakat desa," tuturnya.
(Angkasa Yudhistira)