Hampir sebulan yang lalu, pada 3 Maret 2021, terjadi insiden penikaman massal yang melukai tujuh orang, tiga di antaranya tersisa dalam kondisi kritis. Pelaku ternyata adalah seorang pria Afghanistan berusia 22 tahun dengan keyakinan sebelumnya atas kepemilikan narkoba dan diketahui polisi karena melakukan pelanggaran ringan.
BACA JUGA: Kelompok Anti-Islam Gelar Pameran Karikatur Nabi di Inggris
Menurut tetangganya, dia berbicara bahasa Swedia dengan buruk dan tidak bisa bahasa Inggris sama sekali, yang membuat komunikasi menjadi lebih sulit. Penuntutan mengesampingkan motif teror, sedangkan Perdana Menteri Stefan Löfven menyebut tindakan itu "keji" namun terkenal berpendapat bahwa itu tidak ada hubungannya dengan imigrasi.
Setelah serangan itu, asosiasi Staying at Vetlanda, yang dimulai setelah gelombang migran pada 2015 untuk membantu para pendatang baru, menyuarakan keprihatinan atas "antipati terhadap pengungsi dan khususnya warga Afghanistan". (dka)
(Khafid Mardiyansyah)