JAKARTA - Pengamat Militer, Susaningtyas Kertopati menyatakan, tenggelamnya Kapal Selam KRI Nanggala 402 merupakan kecelakaan kapal Selam pertama di Indonesia. TNI resmi menyatakan KRI Nanggala 402 tenggelam (subsunk) setelah sebelumnya dinyatakan hilang kontak (submiss). Kapal selam TNI AL itu tenggelam di kedalaman 850 meter di perairan Bali utara.
Menurut Susaningtyas, lost contact KRI Nanggala-402 sebenarnya masih ada peluang untuk melakukan Combat SAR. Kemampuan menyelam normal pada ambang batas kedalaman operasional adalah 48 jam ditambah cadangan darurat untuk 24 jam, sehingga total 72 jam.
"Menurut kemampuan tersebut kesempatan masih terbuka melakukan operasi Combat SAR sampai dengan 58-60 jam ke depan. Kesempatan ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan mengundang Angkatan Laut negara lain untuk melaksanakan misi kemanusiaan tersebut," ujarnya saat dihubungi, Minggu (25/4/2021).
"Kita ketahui tidak banyak Angkatan Laut yang memiliki kapal tender kapal selam untuk operasi salvage dan/atau combat SAR. Yang penting saat ini TNI AL dapat segera menyelenggarakan konferensi pers untuk mengundang bantuan internasional," sambung perempuan yang akrab disapa Nuning itu.
Baca Juga : Komandan KRI Nanggala 402: Jika Anda Menemukan Ini di Berita, Doakan Kami
Lebih lanjut Nuning menilai, kejadian tenggelamnya KRI Nanggala ini harus menjadi peluit peringatan agar pemerintah mengevaluasi alutsista yang dimiliki, termasuk sistem perawatan (MRO)-nya, berikut juga kebijakan anggaran pertahanan serta penerapannya.