Menjelang Olimpiade, Sistem Kesehatan Jepang Kacau

Agregasi VOA, Jurnalis
Minggu 23 Mei 2021 16:32 WIB
Foto: Reuters.
Share :

TOKYO - Sambil berjuang untuk menarik nafas, Shizue Akita harus menunggu lebih dari enam jam saat petugas paramedis mencari rumah sakit di Osaka, Jepang untuk merawat sakitnya yang kian memburuk akibat COVID-19.

Saat ia berhasil masuk ke salah satu rumah sakit yang sepi, dokter mendiagnosanya menderita pneumonia akut dan mengalami kegagalan organ sehingga harus dibius. Akita, yang berusia 87 tahun, meninggal dunia dua minggu kemudian.

BACA JUGA: Yamabushi, Para Pertapa di Pegunungan Jepang yang Kembali ke Alam, Kembali ke Diri Sendiri

“Sistem kesehatan Osaka telah runtuh.” kata putranya, Kazuyuki Akita. Ia hanya bisa menyaksikan dari rumahnya di utara Tokyo saat tiga anggota keluarganya di Osaka berjuang melawan virus corona, tanpa adanya perawatan kesehatan yang memadai. “Rasanya seperti neraka," ujarnya.

Rumah-rumah sakit di Osaka, kota nomor tiga terbesar di Jepang dan hanya 2,5 jam perjalanan dengan kereta super cepat dari Tokyo ke lokasi Olimpiade musim panas - kini kebanjiran pasien yang terjangkit virus corona. Sekitar 35 orang orang di seluruh Jepang - dua kali lipat dari angka tersebut dirawat di rumah sakit - harus dikarantina di rumah, dan seringkali sakitnya bertambah parah dan terkadang meninggal dunia sebelum mendapatkan perawatan medis.

BACA JUGA: IOC Yakin Olimpiade Tokyo Berjalan Sukses Meski Ditolak Publik Jepang

Seiring dengan tingginya angka kasus di Osaka, para tenaga medis mengatakan bahwa sistem kesehatan, dari semua sisi, telah melambat, meregang, dan membebani. Dan itu terjadi di wilayah lain di Jepang.

Rasa frustasi dan ketakutan tampak jelas saat The Associated Press mewawancarai sejumlah pekerja medis dan keluarga pasien di Osaka. Suasananya sangat berbeda dengan kondisi di ibu kota Tokyo, di mana panitia Olimpiade dan pejabat pemerintah tetap bersikukuh untuk melangsungkan acara di bulan Juli itu, Panitia mengatakan Olimipiade akan berjalan aman dan tertib meskipun kondisi darurat menyebar ke semakin banyak bagian negara itu dan bertambah banyak warga yang menyerukan pembatalan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya