MALANG - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di pesisir selatan Jawa Timur khususnya, agar membangun bangunan rumahnya dengan kokoh yang tahan akan potensi gempa. Apalagi adanya potensi gempa bumi di atas 8 SR , sebagaimana kajian ilmiah beberapa pakar.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Karangkates Malang, Ma'muri mengungkapkan, bila bangunan yang tahan gempa harusnya didesain sedemikian rupa saling mengikat.
"Secara umum, bangunan yang tahan gempa bumi adalah bangunan yang diikat slup besi di setiap sudutnya. Sehingga ketika terjadi getaran akan saling mempertahankan," ucap Ma'muri, saat dikonfirmasi MNC Portal Indonesia, Senin (24/5/2021).
Baca juga: Sejak 23 Januari, BMKG Catat 203 Kali Gempa Guncang Samosir
Terbukti, berdasarkan survei internal BMKG dikatakan Ma'muri, rata-rata bangunan yang terdampak gempa bumi pada 10 April dan 21 Mei lalu adalah bangunan tua dan tidak tahan gempa bumi.
"Ya, rata-rata bangunan yang roboh akibat gempa bumi lalu akibat konstruksi bengunan tidak kuat dan bangunan tua," ujarnya.
Baca juga: Pandeglang Banten Diguncang 38 Kali Gempa dalam Sehari
Terkait potensi kegempaan yang berkekuatan 8 SR, Ma'muri menyebut secara keilmuan dan kajian ilmiah memang ada potensi kegempaan di atas 8 SR di pesisir selatan Pulau Jawa, termasuk di antaranya Jawa Timur.
"Banyak ilmuan mengatakan, bahwa potensi gempa bumi di atas 8 Skala Ritcher (SR) itu memang ada. Sebab, secara umum wilayah Selatan Jawa itu masuk dalam zona subduksi," jelasnya.
Adapun BMKG mencatat, sejak Januari hingga Mei per tanggal 24 Mei mencatat ada 330 kali gempa bumi di Jawa Timur, dan mayoritas terjadi di wilayah laut selatan.
"Dari sekian jumlah gempa bumi itu, gempa bumi paling besar yang terjadi yakni pada 10 April dan 21 Mei lalu," katanya.