SAMARINDA - Badan Pembinaan Ideologi Pancasia (BPIP) meresmikan Perpustakaan Pancasila di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (30/6). Ini Perpustakaan Pancasila perdana di lingkungan Pemasyarakatan.
Harapannya kelak, Warga Binaan (sebutan Narapidana/Napi) dan jajaran Pemasyarakatan (PAS) di seluruh Indonesia akan terbiasa membudayakan literasi. Ada banyak buku tersedia, mulai buku perjuangan, tokoh bangsa, novel, hingga komik Pancasila.
Perpustakaan Pancasila di Lapas Kelas IIA Samarinda diresmikan Kepala BPIP Yudian Wahyudi dengan penandatanganan prasasti. Sambutan diwakilkan oleh Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP M. Akbar Hadiprabowo.
"Salam Pancasila. Penjara bukan akhir perjalanan hidup. Bisa jadi justru tempat transformasi diri, bahkan perubahan bangsa, seperti yang dialami oleh Proklamator RI, Ir Soekarno. Menjadikan penjara sebagai tempat transformasi diri," tutur Akbar saat membacakan Sambutan Kepala BPIP di Perpustakaan Pancasila Lapas II A Samarinda.
Peresmian Perpustakaan Pancasila. (Foto: Dok.BPIP)
Pada masanya, lanjut Akbar, Bung Karno oleh Pemerintahan Belanda waktu itu dipaksa harus mendekam di Lapas Banceuy dan mencicipi sel Lapas Sukamiskin. Ia juga dibuang ke beberapa tempat pengasingan seperti di Ende, Bengkulu, Brastagi, Bangka dan Boven Digoel.
Memang getir, tapi Sukarno ikhlas. "Beliau malah makin rajin beribadah, membaca buku, mempelajari Islam dan Alquran. Di Pulau Ende, Sukarno sukses menggali nilai-nilai luhur Pancasila. Tanpa renungan Soekarno di tempat pengasingan, tidak akan ada Indonesia," ujar mantan Jubir Ditjen PAS dan Karutan Rangkasbitung ini.