Sejak itu petualangan keduanya dimulai. Mereka hidup di atas kapal berukuran 17 meter x 5 meter yang nyaman dan berfasilitas lengkap. Di dalamnya ada ruang utama yang dilengkapi sofa dan TV, kamar tidur, kamar mandi, ruang laundry, serta dapur kecil untuk memasak makanan Indonesia setiap hari.
Pasangan ini berlayar dari satu negara ke negara, pulau ke pulau dan pantai ke pantai, sebagian besar di Laut Mediterania. Mereka mengunjungi berbagai negara Eropa, mendatangi pulau-pulau tak berpenghuni, dan menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah.
Namun, ibarat ombak, perjalanan mereka penuh pasang surut. Apalagi berlayar sangat bergantung pada cuaca.
“Karena kita terjebak badai itu bukan sekali dua kali, yang bikin aku mikir, mau ngga mau aku harus belajar nyetir, karena cuma kita berdua, eventhough kalau kita pas sailing di Mediterania memang dekat sama coastline, tapi kan tunggu bantuan itu tidak bisa menyelamatkan nyawa,” jelasnya dari Tromso, Norwegia.
Kini Ika sudah terampil mengemudikan kapal berwarna hitam tersebut. Dia juga bisa merencanakan rute, merawat bagian-bagian kapal, serta menguasai navigasi.
“Dia pelaut hebat sekarang,” ujar Oyvind.
“Kami bekerja sama dengan baik sebagai satu tim. Ketika merapat ke pelabuhan, sesuatu yang sangat sulit, saya di balik roda kemudi mengemudikan kapal, dan dia yang melemparkan tali dan menambatkan kapal,” lanjutnya.
Jika tidak sedang memegang roda kemudi, Ika bekerja jarak jauh, untuk sebuah perusahaan piranti lunak milik Singapura yang memiliki cabang di Surabaya. Perusahaan tempatnya bekerja tiga tahun terakhir ini, mengizinkannya bekerja jarak jauh, bahkan sejak sebelum pandemi Covid-19.