Dalam buku ‘Djocjakarta: Mereka (Pernah) di Sini Des 1948-Juni 1949’ karya Wawan Kurniawan Joehanda yang mengutip tulisan George T Kahin , Sultan HB IX menanggapi dingin kedatangan Belanda.
Awalnya setelah Yogya dikuasai Belanda, Sultan HB IX sempat memasang perintang di depan gerbang keraton. Sultan menolak ditemui Jenderal Meyer, komandan militer Belanda setempat dan para pejabat sipil Belanda lainnya.
Lalu Jenderal Spoor sebagai Legercommandant pasukan Belanda datang dengan mengendarai Tank (ringan) Stuart menuju pintu gerbang keraton dan mengancam akan menerobos masuk.
Melihat ancaman Spoor di atas tank membuat Sultan HB IX sedikit melunak. Tapi meminta Spoor turun dari tank untuk jalan kaki dari depan gerbang masuk ke keraton, agar bisa bicara baik-baik.
Spoor menawarkan “kerjasama” dengan menjanjikan banyak hal buat Sultan HB IX. Namun ditolak oleh Sultan HB IX .
Jenderal Belanda itu segan dengan Sri Sultan. HB IX memang dekat dengan keluarga Kerajaan Belanda, Sri Sultan selama ini dikenal pernah punya tanda kehormatan Ordo Oranje-Nassau.
Sri Sultan juga tercatat dan terdokumentasi foto tahun 1940, di mana beliau memiliki seragam militer Commandeur in de Orde van Oranje-Nassau dengan pangkat (tituler) Mayor Jenderal.
Selain itu Ratu Juliana berpesan, tentara Belanda jangan sampai menyentuh Sultan Jogja Hamengkubuwono IX dan istananya. Kerajaan Belanda berpendapat bahwa keraton Yogyakarta dianggap terpisah dari RI yang merupakan “negara merdeka”.
(Qur'anul Hidayat)