Pertama, Wiggers tidak memilih karya yang populer baik dari sisi pengarang maupun dari sisi modus cerita untuk diterjemahkan. Kedua, isi dari cerita tersebut lebih dekat pada pihak pribumi daripada pihak kolonial maupun kelas menengah di Tanah Hindia Belanda. Dan terakhir atau ketiga, pengarang cerita asli yaitu Melati van Java hidup sezaman dengan Wiggers.
Terkait ini, Pramoedya Ananta Toer dalam Antologi Sastra Pra-Indonesia, dan diterbitkan kembali oleh Hasta Mitra pada 1983, memberikan catatan:
“Terjemahan Dari Boedak Sampai Djadi Radja dapat ditafsirkan sebagai pernyataan simpati pada tokoh legendaris Surapati yang konsekuen menentang penjajahan Belanda sampai akhir hayatnya.”
Selain Melati van Java dan Wiggers, patut disebutkan nama penulis lokal, yaitu Abdoel Moeis (1883-1959). Terbit di 1950, dia menulis romannya dengan judul Surapati. Selang dua tahun kemudian, pada 1953, sebagai kelanjutan kisah Surapati juga ditulis sebuah novel lain dengan judul Robert, Anak Surapati.
Mengingat makna ikonik Untung Surapati sebagai simbol perlawanan atas kolonialisme Belanda, dan sekaligus bermaksud mengabadikan namanya, maka Taman Burgemeester Bisschopplein di Batavia (sekarang Jakarta) pascakemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi “Taman Surapati.”
Selain itu, pemerintah Indonesia berdasarkan SK Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 telah menetapkan sosok legendaris ini sebagai Pahlawan Nasional.
(Khafid Mardiyansyah)