Kesultanan Bulungan ibarat menjadi perpindahan kekuasaan antara kerajaan satu dengan lainnya. Bahkan, Kesultanan Bulungan pernah harus “pasrah” berada dalam dominasi kolonialis pemerintah Belanda. Pernah, Kesultanan Bulungan berada dalam kekuasaan Kesultanan Berau, Kalimantan Timur. Kemudian berpindah lagi dalam kekuasaan Kerajaan Sulu, Filipina.
Hingga akhirnya kolonialis Belanda menginjakkan kakinya di Tanah Bulungan tahun 1850. Lalu Belanda mengajak Kesultanan Bulungan agar mau berunding dan menyepakati keluar dari dominasi Kerajaan Sulu. Syaratnya: Kesultanan Bulungan berubah status menjadi milik kolonialis Belanda. Sedangkan Kerajaan Sulu tak mampu melawan sebab di negerinya sendiri terjadi peperangan dengan Spanyol. Sehingga kekuatan Kerajaan Sulu berkurang dan membuatnya “rela” menyerahkan Kesultanan Bulungan.
Tahun 1853 kolonialis Belanda resmi menguasai Kesultanan Bulungan seluruhnya. Setelah dilakukannya perjanjian antara Sultan Muhammad Alimuddin Amirul Mukminin Kaharuddin sebagai pemimpin Kesultanan Bulungan selanjutnya dengan pemerintahan kolonialis Belanda. Prinsip Sultan Muhammad Alimuddin Amirul Mukminin Kaharuddin masih sama seperti pendahulunya, menghindari upaya kekerasan di Bumi Bulungan atau enggan bertempur.
Itulah sebabnya perjanjian dengan kolonialis Belanda dianggap menguntungkan bagi kehidupan yang kondusif di wilayah kekuasaaan Kesultanan Bulungan. Tentara kolonialis Belanda akhirnya mengubah kekuatan pertahanan di kawasan kekuasaan Kesultanan Bulungan. Tentara kolonialis Belanda memberikan jaminan akan membantu Kesultanan Bulungan dari serangan kerajaan lain. Pasukan Kesultanan Bulungan kini mendapat dukungan kekuatan dari tentara kolonialis Belanda. Tidak lagi sekadar mampu mengusir perompak laut saja.
Di era penjajahan Jepang, wilayah Kesultanan Bulungan juga tidak merasakan kehidupan yang pedih untuk ikut kerja Romusha. Ketika daerah lain di Indonesia banyak menjadi korban akibat kerja Romusha. Ditengarai, ada perjanjian kembali antara Kesultanan Bulungan dan penjajah Jepang. Asal tidak ada kekerasan dan korban jiwa, penjajah Jepang dibolehkan membangun basis kekuatan di Bulungan sambil berbagi hasil sumber daya alam.
Setelah kemerdekaan berhasil diraih, Kesultanan Bulungan juga masuk ke dalam kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia. Namun masa sulit kembali dialami Kesultanan Bulungan. Kesultanan Bulungan diembus isu ingin keluar dari Indonesia dan bergabung dengan Malaysia. Sedangkan ketika itu Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.
Mendengar isu tersebut, pihak pengendali keamanan segera mengambil tindakan tegas. Dikirim pasukan militer ke Bulungan. Lalu entah siapa pemicunya, terjadilah pembantai keluarga dan kerabat Kesultanan Bulungan. Penjarahan terjadi, warisan sejarah bangunan kesultanan pun dibakar massa yang tidak terkendali. Dan saat itu Kesultanan Bulungan tetap memilih tidak melakukan perlawanan. (din)
(Rani Hardjanti)