Apa Isi Kesepakatan Luar Biasa Taliban dan Trump yang Menjadi Kunci Mereka Berkuasa Kembali di Afghanistan?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 20 Agustus 2021 12:05 WIB
Utusan mantan Presiden AS Donald Trump menandatangani perjanjian dengan Taliban pada 2020 (Foto: Reuters)
Share :

  • Mengapa AS menginginkan kesepakatan dengan Taliban?

Sehari setelah Menara Kembar World Trade Center runtuh, presiden AS saat itu George W Bush berjanji "pertempuran ini akan memakan waktu dan menjadi landasan tekad, tetapi jangan salah, kami akan memenangkannya".

Kenyataannya, AS tidak sepenuhnya meraih kemenangan secara militer terhadap Taliban.

Walaupun kelompok ini, yang menampung anggota kelompok militan al-Qaeda yang bertanggung jawab atas serangan 11 September, dengan cepat diusir keluar dari perkotaan dengan intervensi NATO, mereka menghabiskan beberapa tahun guna menyusun kekuatan kembali.

Dan pada 2004, kelompok Taliban berada dalam posisi untuk melancarkan pemberontakan terhadap pasukan Barat dan pemerintahan Afghanistan yang baru.

Menanggapi meningkatnya jumlah serangan, presiden AS yang baru saat itu, Barack Obama, meluncurkan "gelombang serangan" pada 2009, secara besar-besaran dengan meningkatkan jumlah pasukan NATO di negara itu, mencapai 140.000 pada puncaknya.

Aksi ini membantu untuk menekan Taliban sekali lagi, tetapi sedikit dampaknya untuk jangka panjang.

Ketika konflik tersebut menjadi perang terlama bagi AS, yang merugikan negara sekitar USD978 miliar dan mengakibatkan lebih dari 2.300 tewas, perang ini menjadi semakin tidak populer di mata warga AS dan seruan untuk mengakhiri keterlibatan mereka semakin kencang.

Sementara jumlah tentara AS yang terbunuh setiap tahun relatif rendah setelah mereka secara resmi mengubah peran dalam bentuk pelatihan pada 2014, Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani mengatakan pada 2019 bahwa "lebih dari 45.000 personel keamanan Afghanistan telah membayar pengorbanan terakhir" dalam lima tahun sebelumnya.

Menghadapi situasi ini, penerus Obama, Donald Trump, mulai mengintensifkan negosiasi dengan Taliban, dengan menandatangani kesepakatan pada Februari 2020.

Keputusan itu merupakan sesuatu yang menyenangkan baginya untuk dibicarakan menjelang pemilihan presiden tahun itu.

"Omong-omong, kami sebagian besar berada di luar Afghanistan, seperti yang mungkin Anda ketahui," kata Trump kepada Axios news saat itu.

"Kami sudah di sana (Afghanistan) selama 19 tahun. Kami akan keluar,” terangnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya