Kamsih, sang istri mengatakan keterbatasan penglihatan suaminya sudah dirasakan saat putri kedua mereka berusia 8 bulan. Saat itu Parjan terkena musibah dan pandangan matanya mulai kabur hingga akhirnya mengalami kebutaan total.
Berbagai upaya dilakukan mulai dari berobat ke dokter spesialis hingga tabib, tapi penglihatan Parjan tidak dapat kembali. Parjan pun tidak bisa melihat wajah putrinya yang mulai beranjak dewasa.
Setiap harinya Parjan dan Kamsih hanya mampu mengumpulkan rata-rata 20 liter nira, yang kemudian diolah menjadi sekira 4-5 kilogram gula merah. Gula merah ini kemudian dijual ke pasar dengan harga sekira Rp15 ribu per kilogram.
Meski penuh keterbatasan Parjan berharap selalu diberikan kesehatan agar tetap mampu bekerja dengan menghasilkan nira. Ini dilakukannya demi asa agar kedua putrinya dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan orangtuanya.
(Rahman Asmardika)