CANDI Singosari dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara yang telah mangkat pada tahun 1292 (leluhur raja-raja Majapahit). Prasasti Gajah Mada (1351 M) menyebutkan bahwa adanya pembangunan caitya yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada untuk batara sang mokta ring Siwa Buddha Laya.
Kertanegara adalah Raja Singasari yang terakhir. Pemerintahannya ditumbangkan oleh Raja Kediri, Jayakatwang. Namun Jayakatwang berhasil dikalahkan oleh menantu Kertanegara yang bernama Raden Wijaya. Raden Wijaya yang merupakan keturunan Mahisa Wongateleng dan Raja Udayana di Bali ini kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit dengan pusat pemerintahan di Tarik (Trowulan)
BACA JUGA: Sejarah Candi Tikus, Peninggalan Majapahit yang Jadi Sarang Tikus
Candi ini pertama kali dilaporkan oleh Nicolaus Engelhardt seorang berkebangsaan Belanda, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa sejak 1801. Demikian dilansir dari laman Kemdikbud.
Dia melaporkan adanya reruntuhan bangunan candi di daerah dataran tandus Malang pada tahun 1803, yang kemudian dikenal dengan nama Candi Singosari. Sejak saat itu Candi Singosari mendapat perhatian orang Eropa lainnya.
Pada tahun 1804 dilakukan pemindahan arca-arca dari reruntuhan candi, arca-arca tersebut dibawa ke negeri Belanda pada tahun 1819.
Pembahasan awal tentang candi ini ditulis oleh JLA Brandes bersama dengan HL Leydie Melville dan J Kneebel dengan bukunya yang berjudul Beschrijving van Tjandi Singasari, en De Wolkentooneelen van Panataran yang terbit pada tahun 1909.
Dalam bukunya ini Brandes mengemukakan bahwa candi itu dibangun atas keputusan Dewan Pertimbangan Agung (Battara Sapta Prabu) yang terdiri dari tujuh pejabat tinggi Majapahit yang perintahnya disampaikan oleh Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisynuwarddhani kepada Mahamenteri Rakrian Empu Mada untuk mendirikan candi bagi mahabrahmana, kepala agama Siwa-Buddha, mantan mahapatih yang gugur bersama Prabu Kertanegara. Pelaksanaan pembangunan candi diserahkan kepada Patih Jinordhana.