JAKARTA – Pasukan elite TNI Angkatan Darat, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), bertugas untuk menjaga keamanan masyarakat. Salah satunya dengan tinggal di rumah rakyat, demi menjaga mereka dari penjarahan, Mei 1998.
Disadur dari buku Kopassus untuk Indonesia, Batalyon 11 – Grup 1 Kopassus yang dipimpin oleh Letnan Kolonel (Letkol) Doni Munardo, mendapat tugas dari Kolonel Pramono Edhie Wibowo untuk mengamankan Ibu Kota.
Baca Juga: Kopassus dalam Penyamaran, Diuji Kesetiaan oleh Musuh dan Ditembaki Teman Sendiri
Pada 14 Mei 1998, pasukan Doni tiba di Kelapa Gading yang diinformasikan akan dijarah. Pukul 1 dini hari, pasukan bernyanyi dan meneriakan yel-yel saat memasuki kawasan tersebut, dengan harapan warga dapat menyadari kehadiran mereka.
Doni menegaskan, tidak boleh ada seorang prajurit pun yang boleh tinggal di rumah mewah atau mal. Mereka diperintahkan tidur di rumah rakyat yang ada di sekitar Kelapa Gading.
Tidak hanya itu, tentara dilarang untuk menerima uang apapun alasannya. Doni sempat kedatangan pejabat untuk mengamankan RW mereka dengan imbalan uang jutaan rupiah, namun dia tolak dengan alasan ‘pagar’ yang dia bangun bisa bolong jika harus mengurangi jumlah pasukan mereka.
Doni sengaja menempatkan pasukannya di daerah Kelapa Gading, agar bisa menutup semua akses masuk dan menyulitkan pihak luar yang ingin menjarah.
Banyak warga menyalurkan bantuan mereka sebagai tanda terima kasih. Pasukan Doni mendapatkan rokok, hingga baju dalam.
Baca Juga: Kisah Kopassus Menyamar Jadi Tukang Durian Rela Ditempeleng