PEMBERONTAKAN Syodanco Soeprijadi di Blitar Jawa Timur 14 Februari 1945, menggemparkan. Sebanyak 360 prajurit Pembela Tanah Air (PETA) tiba-tiba bergerak meninggalkan barak. Dengan emosi para tentara itu menyerang Hotel Sakura, tempat markas perwira Jepang di Blitar. Urat takut mereka seolah sudah putus.
Di bawah komando Soeprijadi, moncong bedil menyalak tak henti-henti. Markas Jepang dilempari mortir, ditembaki. Tidak terkecuali rumah-rumah perwira pengawas dan Kenpetai (Polisi militer Jepang). Juga diserang. Empat orang Jepang dan tujuh orang etnis China pro Jepang, dihabisi. Tentara Jepang dibuat kalang kabut.
Baca juga: Kisah Jenderal Soedirman Jalani Perang Gerilya dengan Satu Paru-Paru
Pemberontakan PETA Blitar menyulut semangat tentara PETA di daerah lain. Termasuk PETA di Cilacap, Jawa Tengah. Pada saat itu Sudirman sedang beristirahat di rumahnya, Cilacap. Ia belum lama diangkat sebagai Daidancho (Komandan Batalyon) Kroya (Tegal). Kabar rencana pemberontakan PETA Cilacap didengar Sudirman yang kelak menjadi Panglima Besar TNI.
Mantan guru sekolah Muhammadiyah itu tidak tinggal diam. Di depan sejumlah pimpinan tentara PETA Cilacap, Sudirman berusaha mencegah. Sudirman tidak ingin kekalahan pemberontakan Blitar terulang. "Kita harus belajar dari sejarah. Kita harus bergerak pada waktu yang tepat," tutur Sudirman seperti ditulis Soekanto S.A dalam "Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman".
Baca juga: Cerita Jenderal Soedirman: Tiga Hari dalam Seminggu Selalu Keliling Kampung
Daidancho Sudirman tidak berharap PETA Cilacap mengalami nasib tragis yang sama. Pemberontakan PETA di Blitar dalam waktu singkat berhasil dipadamkan. Semua tentara di batalyon, dilucuti. Sebanyak 55 perwira beserta anak buahnya, dikirim ke Jakarta. Di pengadilan militer Jepang, mereka diadili. Semua dinyatakan bersalah. Enam orang perwira dibawa ke wilayah Ancol, Jakarta.
Di sana, Jepang memancung kepala mereka satu-persatu. Tiga orang lain divonis seumur hidup dan sisanya dihukum penjara dengan waktu yang berbeda. Sementara nasib Syodanco Soeprijadi, tidak tahu rimbanya. Ada yang menyebut, ikut terbunuh. Versi lain mengatakan, pemimpin pemberontak tersebut masih hidup, bersembunyi, menghimpun kekuatan, dan akan kembali melawan bila waktunya tepat.