Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI yang Kebapakan dan Dicintai Pasukan

Solichan Arif, Jurnalis
Senin 20 September 2021 06:15 WIB
Jenderal Soedirman (foto: istimewa)
Share :

Sebagai Panglima Besar langkah awal yang diambil Sudirman adalah mengkonsolidasikan kedudukannya. Luka-luka yang terjadi selama berlangsungnya konferensi, sekuat tenaga ia sembuhkan. Sudirman mengutamakan persatuan tentara sekaligus memberi pandangan peranannya dalam revolusi. Penilaiannya pada setiap perwira berdasarkan jasa dan kebaktian kepada tujuan kemerdekaan.

Urip yang mengundurkan diri setelah kalah dalam pemilihan, ia minta tetap melanjutkan jabatannya sebagai Kepala Staf. "Dalam jangka waktu yang singkat ia telah memperoleh suatu kedudukan yang benar-benar tidak dapat diingkari di kalangan tentara, dengan menarik kesetiaan dari bekas anak buah KNIL dan sekaligus anak buah PETA," kata Ben Anderson.

Pada 18 Desember 1945 atau hampir enam minggu setelah Konferensi Besar TKR di Yogyakarta. Kabinet Sutan Sjahrir baru mengumumkan pelantikan Sudirman sebagai Panglima Besar. Di Markas Besar Tentara di Gondokusuman, Yogyakarta. Presiden Soekarno resmi melantik Sudirman sebagai Panglima Besar TKR.

Di aula, Bung Karno didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Perdana Menteri Sjahrir. Dalam pidatonya Panglima Besar, Sudirman berbicara tentang perjuangan suci. Juga berbicara tentang kewajiban tentara : mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya.

"Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau siapa pun juga. Tunduk kepada perintah pemimpinnya, inilah yang merupakan kekuatan suatu tentara," kata Sudirman seperti ditulis Soekanto S.A dalam "Perjalanan Bersahaja Jendral Sudirman". Dilantiknya Sudirman sebagai Panglima Besar menimbulkan reaksi pihak Belanda.

Sebuah surat kabar Belanda menaikkan berita dengan nada ejekan : Republik Indonesia mengangkat guru sekolah rendah menjadi Panglima Besar. Tahu apa guru sekolah itu!. Tidak populisnya Sudirman membuat koran Merdeka keliru memuat foto Sudirman Residen Surabaya. Tugas pertama Sudirman sebagai Panglima Besar adalah menyempurnakan organisasi TKR yang pada 26 Januari 1946 berubah nama Tentara Republik Indonesia (TRI).

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya