Berbicara soal isu radikalisme, menurut Ahmad sudah mengalami penurunan secara signifikan. Yang masuk dalam indeks potensi radikalisme adalah sudah pro khilafah, anti-Pancasila, antipemerintah yang sah.
Anti itu berarti membenci negara dan pemerintahan yang sah dengan membangun rasa ketidakpercayaan di kalangan masyarakat terhadap pemerintah.
Indikator lainnya kata dia adalah, sikap intoleran terhadap keberagaman, eksklusif, anti terhadap kebudayaan dan kearifan lokal.
Ahmad menambahkan, dengan memakai skala 0-100, pada 2017, indeks potensi radikalisme di Indonesia mencapai skor 55. Kemudian di 2019, skornya melorot ke angka 38. Lalu akhir tahun lalu turun lagi menjadi 14. Penurunan ini dipicu oleh penangkapan secara masif terduga teroris, pengungkapkan pendanaan terorisme.
“Setelah pasukan keamanan berhasil menewaskan pemimpin MIT Ali Kalora dan rekannya jaka Ramadan, maka tersisa empat lagi anggota MIT, yakni Askar alias Jaid alias Pak Guru, nae alias Galuh alias Mukhlas, Ahmad gazali alias Ahmad Panjang, dan Suhardin alias Hasan Pranata,” tutupnya.
(Fahmi Firdaus )