Kisah Kiai Blitar yang Diasingkan Belanda ke Banda Neira

Solichan Arif, Jurnalis
Minggu 24 Oktober 2021 15:53 WIB
Kiai Bukhori/ ist
Share :

Pada tahun 1886. Setelah menikahi Khadijah, putri KH Hasan Mustar atau KH Qomarudin yang juga veteran laskar Diponegoro, Kiai Bukhori mendirikan pondok pesantren di Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Sejak tahun 1928, Kiai Bukhori dan Kiai Abdullah Fakih menjalani hukuman pengasingan ke pulau Banda Neira. Saat itu, kata Gus Bobby usia kakek buyutnya sudah 75 tahun. Karena alasan umur, atas ijin Belanda tiga tahun kemudian (Tahun 1931) Kiai Shofwan, putra Kiai Bukhori menyusul ke Banda Neira.

"Kiai Shofwan saat itu masih berusia 24 tahun dan bujangan. Kiai Shofwan adalah ayah ibu saya," lanjut Gus Bobby.

Dengan diangkut kapal laut, Kiai Bukhori tiba di Banda Neira sebelum Kongres Sumpah Pemuda. Kehadiran Kiai Bukhori sebagai orang buangan di Banda Neira lebih awal dibanding Bung Hatta dan Sutan Sjahrir. Kolonial Belanda memindahkan Hatta dan Sjahrir ke Banda Neira pada tahun 1836. Sebelumnya keduanya menjalani pengasingan di Digul.

Bersama 12 orang dari Blitar, Gus Bobby belum lama ini melakukan ekspedisi sejarah ke pulau Banda Neira. Ia mendatangi monumen yang mengabadikan 16 nama tahanan politik di Banda Neira. Pada dinding monumen yang menulis nama Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri dan Cipto Mangunkusumo. Tertulis juga nama Kiai Bukhori dan Kiai Abdullah Fakih.

Selama di Banda Neira, Gus Bobby juga banyak mendapat cerita tutur tentang kisah buyutnya. Orang-orang tua di Banda Neira mengenangnya dengan sebutan ulama dari Jawa. Ada cerita bagaimana Kiai Bukhori tetap aktif melakukan syiar Islam. Sebagai ulama, rajin mengunjungi masjid-masjid, dan tidak sedikit warga setempat yang menjadi santrinya. Di tempat tinggalnya, Kiai Bukhori juga tetap mengamalkan tarekat akmaliyah, meski dilakukan sembunyi-sembunyi.

Ada yang menyebut tarekat akmaliyah sebagai tarekat syatariah. Tarekat yang diikuti para bekas laskar Pangeran Diponegoro. "Karena tetap diawasi Belanda, ngaji tarekat ini dilakukan secara tertutup, sembunyi -sembunyi," terang Gus Bobby. Persinggungan Kiai Bukhori dengan Bung Hatta di Banda Neira tidak lama. Karena begitu Bung Hatta dan Sjahrir menjejakkan kaki di Banda Neira (1936), dua tahun berikutnya Kiai Bukhori bertolak kembali ke Jawa. Terkait persinggungan itu Gus Bobby juga mendapat cerita.

Saat itu para tahanan politik, termasuk Kiai Bukhori tengah berkumpul di tempat Cipto Mangunkusumo. Ada Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri dan Cipto sendiri. Melihat kayu bekas serta buku-buku yang berserak, Kiai Bukhori yang memiliki tradisi literasi yang kuat, berinisiatif membuat rak buku. "Yang cerita sejarawan setempat. Mungkin karena Kiai Bukhori sudah sepuh, rak buku buatannya kurang presisi," kata Gus Bobby.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya