Wajah Dingin Raden Saleh saat Diminta Belanda Menguji Keaslian Keris Pangeran Diponegoro

Solichan Arif, Jurnalis
Selasa 25 Januari 2022 18:55 WIB
Raden Saleh. (Foto: Istimewa)
Share :

BLITAR - Keris Kiai Nogo Siluman ada di genggaman tangan Raden Saleh. SRP Van de Kasteele meminta pelukis yang bernama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman itu, mengecek keasliannya.

Sebelumnya Sentot Ali Basah Prawirodirdjo, bekas senopati perang Diponegoro yang menyebrang ke Belanda, telah menyatakan asli. Tapi kompeni merasa belum puas dan berusaha mencari pendapat lain.

Kasteele merupakan Direktur Kabinet Kerajaan Belanda untuk urusan benda-benda langka. Raden Saleh yang belum lama tinggal di Negeri Kincir Angin, langsung ditunjuk membantu urusan itu.

Saat itu tahun 1831. Rencananya Kiai Nogo Siluman akan dihadiahkan kepada Raja Belanda Willem I, sebagai piala kemenangan. Kiai Nogo Siluman merupakan keris pusaka Pangeran Diponegoro.

Keris di tangan Raden Saleh itu merupakan salah satu pusaka penting yang dirampas kompeni Belanda bersama penangkapan Diponegoro di Magelang tahun 1830.

Selain Kiai Nogo Siluman, tentara kompeni pimpinan De Koch juga mengambil paksa sejumlah pusaka lain milik Diponegoro. “Raden Saleh ditugasi mengidentifikasi dan menilai keris itu,” tulis Werner Krauss dalam buku “Raden Saleh, Kehidupan dan Karyanya”.  

Baca juga: Penggambaran Kepala Raksasa Perwira Belanda di Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Karya Raden Saleh

Raden Saleh Syarif Bustaman digambarkan tidak memperlihatkan ekspresi yang menonjol. Tatapannya terhadap Kiai Nogo Siluman, dingin. Gesturnya tetap tenang meski ia jelas-jelas memiliki benang merah yang erat dengan pemberontakan Diponegoro.

Raden Saleh lahir tahun 1811 di Terboyo, sebuah desa kecil di wilayah Semarang Jawa Tengah. Ayahnya Sayyid Husein bin Alwi bin Awal bin Yahya dan ibunya bernama Mas Ajeng.

Sayyid Abdullah Muhammad Bustam alias Ki Bustam alias Kiai Ngabehi Kertoboso (1681-1759), buyut Raden Saleh bergabung dalam dinas Kerajaan Belanda. Kariernya sampai menjadi bawahan Bupati Terboyo.

Belanda mengangkat dua putra dan lima cucu laki-laki Ki Bustam menjadi bupati di kabupaten-kabupaten wilayah utara Jawa. Puncak kedua keluarga Bustam dicapai cucunya yang bernama Raden Adipati Suroadimenggolo V alias Kanjeng Terboyo (1765-1827).

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya