3. Pemberontakan APRA di Bandung
Pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) terjadi di Bandung, 23 Januari 1950. APRA merupakan kelompok milisi pro-Belanda yang muncul di era revolusi. Pemberontakan APRA dibentuk serta dipimpin oleh mantan kapten KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) atau yang biasa disebut Tentara Hindia Belanda, Raymond Westerling.
Alasan yang menjadi pemicu pecahnya pemberontakan adalah hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB). Konferensi yang berlangsung sejak 23 Agustus hingga 2 November 1949 di Den Haag, Belanda ini menghasilkan beberapa keputusan, di antaranya Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada akhir Desember 1949. Para Tentara Hindia Belanda juga didera kekhawatiran lantaran akan mendapatkan hukuman serta dikucilkan dalam kesatuan.
Kemudian Kapten Raymond Westerling ditugaskan untuk mengumpulkan anggota KNIL yang sudah dibubarkan. Sebanyak 8.000 pasukan berhasil terkumpul. Pada 5 Januari 1950, Westerling mengirimkan ultimatum kepada RIS (Republik Indonesia Serikat) yang berisi tuntutan agar RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Pasundan. Bahkan pemerintah RIS juga diminta untuk mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pada Februari 1950, APRA tidak berfungsi lagi karena Raymond Westerling melarikan diri, meninggalkan APRA tanpa pemimpin.
Diolah dari berbagai sumber:
Tika Vidya Utami/Litbang MPI
(Qur'anul Hidayat)