Bagaimana terjadinya proses tindak pidana ini dari titik-titik tadi, kita sudah melakukan analisa, pertama mereka berkumpul.
"Faktanya dilakukan anak di bawah umur 20 tahun dan dilakukan oleh warga setempat. Bekasi di Bekasi, Depok di Depok. Pertama mereka berkumpul dalam satu komunitas, kemudian mereka mengidentifikasi dirinya sebagai kelompok yang kuat," ungkap Tubagus Ade Hidayat.
Untuk bisa disebut sebagai kelompok yang kuat maka harus melakukan tindakan-tindakan yang berani, yang di identifikasi dengan cara berani melukai orang lain.
"Kasus di Depok misalnya korban tidak punya salah dan urusan dengan kelompok itu. Tapi karena kelompok itu supaya disebut hebat harus melakukan tindakan berani melukai orang lain, tindakan kriminal," terang Tubagus Ade Hidayat.
Kelompok tadi mengidentifikasi sebagai kelompok hebat dan kelompok lain disebut musuh. Itulah makanya ramai aksi-aksi tawuran.
"Difasilitasi dengan beberapa media sosial seperti Facebook, Instagram dan lain sebagainya. Setiap kejadian tawuran sengaja diabadikan di beberapa medsos agar mereka bisa diidentifikasi sebagai kelompok hebat," jelasnya.
Setelah dilakukan analisis mendalam, ini masalah sosial. Dibentuk tim khusus, Ditkrimum Polda Metro Jaya lebih fokus pada kluster kriminalitas. Pihaknya membentuk tim gabungan Polda dan Polres.
"Masalah sosial dari ketahanan keluarga. Ini anak pergi jam segitu di titik kumpul, ini kita sentuh dengan melibatkan beberapa potensi masyarakat kedepannya. Kalau ada potensi kriminal maka kewajiban pihak kepolisian melakukan tindakan hukum yang tegas dan terukur," terang Tubagus Ade Hidayat.
Setelah Kapolda turun ke lapangan dilakukan analisa, dan dibandingkan dengan hasil pengungkapan, ada kesimpulan sementara seperti itu.
"Upaya kedepan diharapkan melibatkan stakeholder, baik kepolisian, sekolah, RT/RW setempat, dan organisasi kepemudaan," kata Tubagus Ade Hidayat.
Ia menyebutkan polisi modern lebih berorientasi pada bagaimana supaya peristiwa kejahatan itu tidak terjadi. Bukan bagaimana mengungkapnya.
"Kalau jajaran reserse ada kejadian baru diungkap. Tapi lebih di titik beratkan pada bagaimana agar hal ini tidak terjadi. Yang di ekspos memang hanya dua peristiwa saja, tapi ada banyak kasus yang kita sudah ungkap," pungkas Tubagus Ade Hidayat.
(Khafid Mardiyansyah)