DEMI memperjuangkan Ukraina yang tengah diinvasi Rusia, mahasiswa rela berperang dengan menjadi tentara sukarelawan. Mereka dilatih dalam waktu singkat, dan langsung terjun ke garis depan.
Bagaimana dengan orangtua mereka?
Wartawan BBC sempat menanyakan hal tersebut tentang apa pendapat orangtua mereka. Maksym, salah seorang mahasiswa mengatakan sambil bercanda bahwa ibunya menyuruhnya tinggal di tempat penampungan saja dan menjadi sukarelawan untuk memasak makanan.
Dia telah memberi tahu orangtuanya tentang rincian penempatannya karena dia tidak ingin membuat mereka khawatir. Sementara orangtua Dmytro, sukarelawan lainnya mengungkapkan bahwa orangtuanya tahu apa yang anaknya lakukan.
Dia mulai dengan membuat bom molotov sendiri dan setelah beberapa hari dia menelepon ayahnya untuk memberitahu bahwa dia telah memutuskan bergabung dengan pasukan pertahanan teritorial. Ayahnya menyuruhnya untuk tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi pahlawan.
Orangtuanya, kata Dmytro, bangga dengan apa yang dilakukannya. Dia tampak senang. Bahkan, dia pernah menanyakan ke orangtuanya apakah merasa takut dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Tidak terlalu, tetapi takut itu manusiawi, dan tentu saja dalam hati saya merasa sedikit takut, karena tidak ada orang yang ingin mati, bahkan jika kematian itu demi negara sendiri. Jadi, kematian bukanlah pilihan bagi kami."
Baca Juga: Sekelompok Tentara Rusia Menangis dan Minta Maaf karena Bunuh Warga Sipil dan Anak-Anak di Ukraina