Kisah Sri Sultan Hamengku Buwono IX Berikan Uang Belanja 500 Gulden untuk Istri Bung Hatta

Aulia Oktavia Rengganis, Jurnalis
Selasa 15 Maret 2022 06:36 WIB
Sri Sultan HB IX. (Foto: Dok Gahetna.nl)
Share :

JAKARTA - Setelah Jakarta diduduki oleh tentara Inggris pada permulaan September 1945 dan tentara Belanda pada pertengahan Desember, keadaan Kota Jakarta mulai panas dan terasa tidak aman.

Karena itu, pada 4 Januari 1946, Presiden Bung Karno dan Wakil Presiden Bung Hatta bersama keluarga dan sejumlah pejabat terpaksa pindah Yogyakarta yang pada saat itu sementara dijadikan Ibu Kota Republik Indonesia.

Mengutip dari buku ‘Takhta untuk Rakyat’, rombongan berangkat dari Jakarta menggunakan kereta api KLB (Kereta Api Luar Biasa) pukul 7 malam dan naik dari belakang kediaman Presiden Jalan Pegangsaan Timur 56.

Meskipun keberangkatan mereka dirahasiakan, ternyata rakyat di luar Kota Jakarta mengetahui karena setiap henti di stasiun ribuan rakyat telah menunggu kedatangan mereka. Rakyat bersorak-sorak "Merdeka, Merdeka" dan kadang-kadang coba naik kereta api.

5 Januari pukul 10 pagi, kereta api KLB tiba di stasiun Tugu, Yogyakarta. Di stasiun Tugu telah penuh orang yang menjemput dan beberapa di antaranya terus naik ke wagon kereta api tempat Presiden dan Wakil Presiden.

Salah seorang di antaranya bersalaman dengan Presiden dan Wakil Presiden, kemudian diperkenalkan kepada Nyonya Fatmawati Sukarno dan kepada Nyonya Rahmi Hatta. Ternyata yang diperkenalkan itu adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sultan Yogyakarta.

 Baca juga: Lakon Bung Karno di Panggung Tonil Monte Carlo

Beliau menyalami Nyonya Rahmi Hatta dengan tersenyum dan sikapnya sederhana. Kemudian Nyonya Rahmi Hatta bersalaman pula dengan Sri Paku Alam dan pembesar Kesultanan Yogyakarta lainnya.

Mereka turun dari kereta api lalu memasuki mobil yang tersedia. Presiden satu mobil dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Wakil Presiden dengan Sri Paku Alam, dan Nyonya Rahmi Hatta satu mobil dengan Nyonya Fatmawati Sukarno.

Dari Stasiun Tugu, rombongan langsung menuju Keraton Paku Alam. Mereka tinggal di Keraton Paku Alam sementara waktu sambil menunggu selesainya perbaikan gedung kediaman Presiden dan Wakil Presiden yang hanya terpisahkan oleh Jalan Reksobayan.

Berdasarkan cerita yang dibagikan Bung Hatta kepada Nyonya Rahmi Hatta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah seorang yang demokratis, taat kepada Republik dan bersedia memberi pengorbanan untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan juga dekat sekali pada rakyat. Itulah sebabnya rakyat Yogyakarta sangat cinta kepada sultannya.

Nyonya Rahmi Hatta bercerita kejadian yang mengesankan dan tak akan terlupakan, yaitu pada waktu ia dibebaskan dari tahanan tentara Belanda di Kepresidenan bulan Desember 1948, beberapa hari setelah keberangkatan Presiden dan Wakil Presiden ke pembuangan di Prapat dan Bangka.

Tentara Belanda menyediakan sebuah rumah di Sagan untuk tempat tinggal Nyonya Rahmi Hatta dan keluarga, yaitu kedua orang tuanya dan anaknya yang bernama Meutia yang baru berumur satu tahun.

Keluar dari tahanan, ia tidak mempunyai apa-apa, kecuali sedikit pakaian dan uang. Karena itu, ia sudah membayangkan akan menghadapi kesulitan hidup selama Yogyakarta diduduki tentara Belanda.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya