Atasi Perubahan Iklim, Presiden Jokowi Dorong Mobilisasi Pendanaan

Raka Dwi Novianto, Jurnalis
Senin 21 Maret 2022 08:27 WIB
Presiden Joko Widodo (Biro Pers)
Share :

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka Sidang Ke-144 Assembly of The Inter-Parliamentary Union (IPU) and Related Meetings, pada Minggu, 20 Maret 2022. Kegiatan IPU digelar di Mangupura Hall, Bali Internasional Convention Center (BICC), Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

Dalam acara bertajuk "Getting to Zero: Mobilizing Parliament to Act on Climate Change" tersebut, Presiden Jokowi menekankan satu isu yang tidak kalah pentingnya yakni perubahan iklim.

Baca Juga:  Usai Nonton MotoGP, Presiden Jokowi Langsung ke Bali Hadiri Sidang IPU

Menurut Jokowi, isu perubahan iklim sudah sangat sering dibicarakan di dalam pertemuan-pertemuan global. Namun, aksi lapangannya belum terlihat.

"Jangan melupakan bahwa kita menghadapi sebuah hal yang mengerikan kalau kita tidak berani memobilisasi kebijakan-kebijakan, baik itu di parlemen maupun di pemerintah, yaitu adalah perubahan iklim. Hal yang sering kita lakukan, sering kita bicarakan, sering diputuskan di dalam pertemuan-pertemuan global, tetapi aksi lapangannya belum kelihatan," ujar Jokowi.

Contohnya, kata Jokowi, untuk transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan yang tampak mudah tetapi pada praktiknya sulit, terutama bagi negara-negara berkembang. Untuk itu, Jokowi mendorong semua pihak yang hadir agar dapat memobilisasi pendanaan iklim karena tanpa adanya hal tersebut dampak perubahan iklim akan sulit untuk dicegah.

"Ini harus segera kita selesaikan. Kedua, investasi dalam rangka _renewable energy_. Kemudian, yang ketiga yang berkaitan dengan transfer teknologi. Kalau ini tidak riil dilakukan, sampai kapan pun saya pesimistis bahwa yang namanya perubahan iklim ini betul-betul tidak bisa kita cegah," katanya.

Baca Juga: Sidang Ke-144 IPU, Puan Dorong Parlemen Internasional Tolak Unilateralisme 

Lebih lanjut, Jokowi menyebutkan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi energi baru terbarukan, mulai dari potensi hidro dari 4.400 sungai yang dimiliki Indonesia, potensi geotermal sebanyak 29 ribu megawatt, tenaga angin, arus bawah laut, hingga energi matahari yang melimpah. Namun, hal tersebut memerlukan dukungan berupa investasi besar, transfer teknologi, dan pendanaan.

"Perlu sebuah investasi yang besar, perlu sebuah transfer teknologi, perlu pendanaan iklim global yang betul-betul serius didukung oleh internasional. Kalau itu hanya kita bicarakan dari tahun ke tahun dan tidak ada mobilisasi, tidak ada keputusan, saya pesimistis bahwa yang namanya perubahan iklim ini betul-betul tidak bisa kita cegah sama sekali," katanya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya