Kisah Gerilyawan Malang Kebal Peluru Hanya dengan Makan Telur Mentah

Avirista Midaada, Jurnalis
Senin 11 April 2022 12:01 WIB
Masjid Bungkuk Malang. (Foto: Avirista M/MPI)
Share :

MALANG - Masjid Bungkuk Malang menjadi saksi perlawanan pejuang Indonesia dalam melawan penjajah Belanda dan sekutunya. Masjid dan pondok pesantren yang ada di Bungkuk itu juga mengirimkan beberapa kader pilihannya untuk berjihad bergerilya melawan penjajah Belanda dans sekutu saat agresi militer Belanda.

Generasi keempat pendiri Masjid Bungkuk KH. Moensif Nachrawi menuturkan, meski tidak secara resmi digunakan markas gerilyawan, tetapi masjid dan pondok pesantren Bungkuk yang jadi tertua se-Malang raya ini menjadi area penggemblengan para pejuang. Di sini para pejuang digembleng baik fisik maupun spiritual untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Tidak secara resmi markas begitu, tapi seperti anda tahu gerilya itu setelah (tahun) 45 merdeka, 45 agustus merdeka, November 45 Belanda datang lagi bersama sekutu-sekutu waktu itu Inggris, sebetulnya itu urusannya sekutu. Tapi Belanda ndompleng (ikutan) kepingin masuk lagi ke Indonesia," ucap Moensif ditemui di rumahnya di Jalan Bungkuk, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA:Sembilan Titik di Kota Malang Tergenang Banjir Usai Diguyur Hujan Deras

Saat itu Belanda dan sekutunya memasuki Indonesia mulai dari kawasan Surabaya. Belanda dan sekutu terus bergerak ke selatan mencoba menguasai kembali beberapa daerah ke selatan Surabaya yang sempat dikuasai sebelum kedatangan Jepang.

"Waktu itu mulai masuk dari Surabaya yang diincar mulai terjadi rundingan gagal, rundingan gagal, perang lagi, hingga ada perang enam hari matinya Jenderal Mallaby. Belanda bertahan (tahun) 45 akhir 46, (tahun) 47 di Surabaya, 47 mulai merangsek ke selatan," ungkapnya.

Ia menambahkan, saat itu wilayah Malang dan sekitarnya memang belum dalam penguasaan Belanda. Namun pergerakan Belanda yang terus merangsek ke selatan memasuki daerah Porong, membuat pejuang sekitar Malang bersiaga.

Antisipasi pun dilakukan para pejuang termasuk tokoh-tokoh ulama Islam di Malang dan sekitarnya, mereka bersama-sama rakyat dan gerilyawan berlatih perang dan membekali dengan ilmu spiritual, yang akan dikirim ke Porong untuk berjuang melawan Belanda dan sekutunya.

"Di saat di sana itu gerilya itu dikirim rata-rata cuma dibekali istilahnya tahan peluru, minum telur ayam, dikasih doa ditelan. Biar orang-orang yang mau berangkat untuk gerilya biasanya diangkut menuju perbatasan frontnya, di daerah Porong dikirim ke sana," terang pria yang juga penasehat takmir Masjid At Thohiriyah, Bungkuk.

"Dari mana-mana dari Jember ke sana, dari Malang ke sana, Singosari ini tempat mengemblengnya mengebalkan di sini, nggak ada markas tentara tentara nggak ada baru berdiri Oktober, nggak ada waktu itu yang ada gerilyawan," tambahnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya