Kisah Gerilyawan Malang Kebal Peluru Hanya dengan Makan Telur Mentah

Avirista Midaada, Jurnalis
Senin 11 April 2022 12:01 WIB
Masjid Bungkuk Malang. (Foto: Avirista M/MPI)
Share :

Ia masih ingat betul selain di Bungkuk, Singosari, rumah orang tuanya KH. Nachrawi juga digunakan para pejuang gerilyawan berkumpul. Di sana para pejuang ini dibekali ilmu agama, peperangan, dan terpenting kebal saat ditembak senjata api oleh Belanda dan sekutunya. Bahkan KH. Nachrawi turut turun langsung membekali para pejuang untuk berperang, termasuk ilmu kekebalan terhadap senjata itu.

Ia masih ingat ketika masih SD samurai, pedang, dan senjata tajam lainnya menjadi hal yang sering dilihat, bahkan dipegangnya. Perbekalan pertempuran itulah yang menjadikan modal gerilyawan asal Malang dan sekitarnya.

"Banyak (yang mengajarkan ilmu kekebalan terhadap senjata) salah satunya Nachrawi, ayah saya di Lawang itu juga sama saja. Jadi Peta itu kumpulnya di sana, waktu itu saya masih kecil SD ada samurai diam-diam melihat, masih kecil saya," papar pria berusia 87 tahun ini.

Namun selain di Singosari dan Lawang disebutnya ada beberapa daerah lainnya terutama di pondok - pondok pesantren yang memiliki tokoh - tokoh ulama mengajarkan hal serupa, ilmu kekebalan dengan memakan telur mentah.

"Nyebar dimana-mana, banyak memang yang ditokohkan yang mampu bisa nyuwuk. Jadi orang bukan di tempat sini saja ada di tempat lain. Itu telur mentah bawa sendiri - sendiri, didoakan (sama kiai), dipecah, dimakan, jadi tanpa dimasak, namanya telur mentah. Setelah itu berangkat perang," jelasnya.

Memang beberapa dari mereka disebut Moensif, ada yang berhasil pulang dengan ilmu kekebalan yang dimiliki, tapi tak jarang ada yang gugur dalam medan pertempuran. Menurutnya hal itu juga dipengaruhi dari hati, amal, dan tingkah lakunya masing-masing. "Yang mati nggak pulang, yang masih hidup ya pulang orang, gitu saja," ucap dia.

Upaya koalisi arek - arek Malang, Pasuruan, Surabaya, dan sekitarnya di Jawa Timur melawan Belanda akhirnya gagal. Belanda kian merangsak masuk ke selatan, bahkan setelah Porong, Belanda dan sekutunya menguasai daerah Lawang setelah sempat terjadi pertempuran dengan para gerilyawan pejuang Indonesia.

"Lawang itu bertahan lama karena mau ke selatan itu susah, satu saat Belanda itu coba dari lawang ke Singosari itu gagal kenapa, pohon gede-gede (besar - besar) itu dirobohkan, mobil tank nggak bisa lewat, truk-truk nggak bisa lewat, gagal. Gimana caranya bisa masuk Malang, waktu itu masih RI masih Republik Indonesia," tuturnya.

Belanda dan sekutunya membuat skema memecah pasukan untuk menuju Malang. Pasukan pertama ditarik mundur ke Surabaya hingga menuju lapangan udara (Lanud) Juanda yang saat ini, sedangkan pasukan kedua dipecah mundur melalui Pasuruan dari Tretes kemudian mendaki gunung dan hutan menembus wilayah Pujon, yang ada di Kabupaten Malang.

Upaya ini tampaknya sedikit memudahkan Belanda masuk ke wilayah Malang. Pasukan udara Belanda berhasil menjangkau lapangan udara Bugis di Pakis, yang kini menjadi Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, yang diambil alih dari para pejuang. Begitu pun dengan pasukan yang melalui Pujon, juga berhasil merangkak masuk dengan menaklukkan pejuang - pejuang kemerdekaan Indonesia.

"Dari Pujon terus merangsak masuk ke Blimbing, di situ terjadi pertempuran hebat antara Belanda dengan pejuang kita. Akhirnya Blimbing (Kota Malang) , jatuh ke tangan Belanda, Kiai Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdatul Ulama) dikabari Blimbing jatuh ke Belanda itu sampai kaget," bebetnya.

Dari sinilah akhirnya pasukan Belanda berhasil memasuki Kota Malang, kendati sejumlah upaya mempertahankan kota dilakukan para pejuang gerilyawan, hal itu berhasil diatasi Belanda yang dibantu para sekutunya.

(Widi Agustian)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya