Dalam suatu wawancara, Kepala Bakin Jenderal Sutopo Juwono di tahun 1989 mengungkapkan pada 1973 menjelang pembentukan Kabinet Pembangunan II, ia pernah mengusulkan kepada Soeharto agar orang seperti Ali Moeropo diberi jabatan dan tanggung jawab yang jelas. Pasalnya, Ali dinilai sulit untuk dikendalikan sebab tipenya adalah petualang. Jabatan yang diusulkan Sutopo Juwono ketika itu adalah Menteri Penerangan. Soemitro juga dalam suatu kesempatan menyatakan hal yang sama, atas jabatan sebagai Menteri Penerangan, Ali menolak.
"Pada suatu saat ketika saya sedang rapat di Kopkamtib, ada tamu ingin bertemu mendadak, ternyata Ali Moertopo.
Ia meminta segera bertemu, karena diperintahkan Pak Harto. Rapat pun saya skors, saya terima dia di ruangan sebelah di tempat main biliar, di tempat saya sering ngaso, 'He ono opo Li?' Ia langsung nyerocos, 'Pak saya ndak mau jadi menteri Pak, saya ndak mau, ndak mau.'," ujar Soemitro.
Karena itulah ia dinilai lebih suka terhadap jabatan yang inkonstitusional seperti Aspri hingga dapat leluasa bergerak.
Menurut Harold Crouch, persaingan di antara penasihat-penasihat Presiden di bidang politik dan keuangan di satu pihak dengan para pendukung-pendukung Jenderal Soemitro di pihak lain pada umumnya seputar perebutan kekuasaan dalam tubuh elite itu sendiri.
(Fahmi Firdaus )