WASHINGTON - Orang tua seorang pelaut yang meninggal karena bunuh diri saat berada di kapal induk USS George Washington - salah satu dari tujuh awak yang tewas pada tahun lalu, termasuk empat orang karena bunuh diri - mengecam tanggapan Angkatan Laut terhadap krisis tersebut sebagai hal yang "konyol."
John Sandor dan Mary Graft, orang tua dari Xavier Hunter Mitchell Sandor yang masuk dalam Master at Arms Seaman Recruit, mengatakan kepada Brianna Keilar dari CNN pada acara ‘New Day’, bahwa putra mereka tidak memberikan banyak detail tentang kondisi di kapal induk tetapi mengatakan pengalaman itu "mengerikan. "
"Orang-orang seharusnya tidak harus hidup seperti ini," kata John Sandor kepada putranya, menambahkan bahwa Xavier akan menelepon mereka dari mobilnya dan mengatakan kekurangan air panas untuk mandi.
Baca juga: Banyak yang Bunuh Diri, Lebih dari 200 Pelaut Pindah dari Kapal Induk AS
"Dia mencintai pekerjaannya. Dia melakukan shift 12 jamnya. Dan bagaimana Anda tidur di kapal induk dengan jackhammering dan asap dan bau di siang hari? Jadi, dia akan tidur di mobilnya," terang John tentang putranya yang berusia 19 tahun.
"Mengerikan sekali. Seharusnya tidak ada pelaut yang tinggal di kapal itu dalam kondisi seperti itu,” lanjutnya.
Baca juga: Tingkatkan Skill, Tantangan Pelaut RI di Era Industri 4.0
"Mengetahui apa yang terjadi dengan kru sebelum dia, ini bisa terjadi sejak lama dan putra saya masih hidup. Saya tidak tahu mengapa butuh waktu lama bagi Angkatan Laut untuk bertindak atas hal itu. Mereka harus menunggu sampai tujuh korban untuk benar-benar membuat perubahan? Ini konyol,” tegasnya.