"Ketika saya melihatnya, ia terlihat sangat kacau. Anak-anak yang kembali dari sana begitu kurus, kotor, dan letih. Pakaian mereka sobek-sobek. Putra saya bilang: 'lebih baik Ibu tidak tahu apa yang terjadi di sana.' Namun hal terpenting bagi saya adalah ia sudah pulang hidup-hidup,” lanjutnya.
Marina marah dengan apa yang terjadi. "Mereka berbohong di depan muka saya," terangnya.
"Pertama, mereka bohong anak-anak saya tidak di Ukraina. Kemudian mereka bohong bahwa anak-anak saya menandatangani kontrak militer. Perwira bohong, sersan bohong. Belakangan, seseorang memberi tahu saya bahwa mereka tidak diizinkan mengatakan yang sebenarnya. Luar biasa,” lanjutnya.
"Mereka bisa melanggar hukum dan mengirim anak-anak saya [ke Ukraina], tapi mereka tidak bisa memberi tahu seorang ibu di mana anak-anaknya,” ujarnya.
"Saya ingin percaya bahwa Presiden kami, panglima tertinggi, tidak menyadari kekacauan di tubuh tentara. Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa tidak semuanya di sini seperti yang mereka katakan di televise,” ungkapnya.
Marina merasa lega bahwa kedua putranya selamat. Ia kini bersimpati pada keluarga lainnya.
"Begitu banyak anak belum pulang dan tidak akan pernah pulang. Begitu banyak ibu yang masih mencari anak-anaknya. Ini mengerikan. Kita seharusnya sudah mencapai puncak perkembangan manusia. Mengapa kita tidak bisa mencapai kesepakatan? Mengapa kita harus berperang dan saling membunuh?,” urainya.
"Putra-putra saya adalah orang yang berbeda setelah mereka pulang. Anda bisa melihatnya di mata mereka. Mereka berbeda. Mereka kecewa. Saya ingin mereka percaya lagi pada masa depan yang cerah, pada perdamaian dan cinta. Mereka sudah tidak percaya lagi,” tambahnya.
(Susi Susanti)