Akar ganja direbus dan airnya diminum untuk kencing manis.
Ganja juga digunakan oleh masyarakat masyarakat Serambi Mekkah itu untuk bumbu penyedap rasa masakan dan menambah nafsu makan, seperti untuk kuah beulangong, kari kuah bebek, bubur rempah bernama ie bu peudah dan makanan rempah lain.
BACA JUGA:Komisi III Bakal Rapat Bahas Ganja untuk Kepentingan Medis Pekan Ini
Kemudian, ganja digunakan sebagai campuran kopi. Bahkan, pohon ganja juga berfungsi sebagai pengusir hama tanaman.
"Untuk pertanian, ganja ditanam di pinggir area persawahan, sehingga hama serangga tidak akan makan padi karena aroma dari daun bunga dan biji itu sudah menyengat buat hewan," kata Inang.
Ganja sudah menjadi bagian budaya masyarakat Aceh selama ratusan tahun. Bukan hanya di Aceh, jejak ganja juga tercatat di Maluku, khususnya Ambon.
Ahli botani Jerman-Belanda, GE Rumphius pada tahun 1741 menulis buku berjudul Herbarium Amboinense. Dalam buku itu, ganja digunakan oleh masyarakat Maluku untuk kepentingan ritual dan pengobatan.
BACA JUGA:DPR: Riset Program Ganja Medis Perlu Dilakukan di Indonesia
"Ganja dihisap untuk menimbulkan trans saat bermeditasi dan melakukan ritual," kata Inang.
Kemudian, daun ganja dicampur pala dan diseduh berfungsi sebagai teh untuk gangguan asma, nyeri dada pleuritik dan sekresi empedu.
(Nanda Aria)