Pandemi Covid-19 bukan hanya berdampak negatif bagi seluruh dunia, namun juga mengubah proses pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, layanan kesehatan harus beradaptasi dengan tantangan teknologi digital.
Hal itu mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan untuk mempercepat transformasi layanan kesehatan. Pemanfaatan teknologi digital untuk mewujudkan layanan kesehatan masyarakat yang terintegrasi, aman, bermutu, serta efisien.
Transformasi layanan kesehatan tersebut melalui perubahan dan pembaharuan fasilitas, yang mampu meningkatkan kesehatan masyarakat. Hal ini tak sekadar berupa pembangunan infrastruktur, tetapi juga suatu bangunan yang mampu memberi makna bagi warga DKI Jakarta. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan dan pengalaman yang baik.
Salah satu bentuk transformasi layanan kesehatan di Jakarta dengan mengubah 31 nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta. Penjenamaan (branding) ini memberikan pesan kuat, sekaligus ikhtiar besar untuk menghadirkan kesejahteraan sosial untuk semua masyarakat.
Sri Agustini (58), misalnya, merasakan hal itu. Sejak tiga tahun lalu, ia menemani anak bungsunya, Hanif Bimo Wicaksono (20), untuk menjalani pengobatan di Klinik Gangguan Belajar RSUD --yang kini berubah menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta-- Duren Sawit, Jakarta Timur. Sejak duduk di bangku SMA, anaknya tersebut mengalami gangguan belajar.
Setelah menjalani terapi Transcranial Magnetic Stimulator (TMS) dan Neurofeedback selama tiga tahun, Hanif mulai merasakan pencapaian prestasi belajar yang memuaskan. Saat ini, Hanif kuliah di semester 2 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, program studi Pendidikan Kimia.
"Alhamdulillah, anak saya jadi bisa fokus belajar. IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dia dari semester 1 dan 2 selalu di atas 3. Saya berterima kasih kepada Pemprov DKI Jakarta melalui pelayanan kesehatan di Rumah Sehat untuk Jakarta, sehingga anak saya bisa berprestasi dalam belajar," jelasnya.
Sri berpesan kepada para orang tua yang anaknya mengalami gangguan belajar, agar jangan ragu menjalani terapi dan pengobatan di Rumah Sehat untuk Jakarta. Sebab, di Rumah Sehat untuk Jakarta Duren Sawit, dari pelayanan, peralatan, fasilitas, hingga tenaga medisnya sangat mendukung kesembuhan pasien.
"Untuk perubahan nama dari RSUD menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta itu sangat tepat dan setuju banget. Karena secara psikologis orang yang datang ke Rumah Sehat untuk Jakarta mempunyai semangat tinggi untuk sembuh dan bertambah sehat. Semoga Pemprov DKI Jakarta tetap mempertahankan prestasi layanan kesehatan bagi masyarakat," ujarnya.
Sedangkan Dokter Apin, dokter spesialis anak dan praktisi kesehatan di Rumah Sehat untuk Jakarta Pasar Rebo, Jakarta Timur, mengatakan, penjenamaan RSUD menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta harus dibarengi dengan peningkatan pelayanan kesehatan kepada pasien dan peningkatan peralatan medis.
"Perubahan nama tersebut diharapkan juga membawa perubahan untuk mutu layanan pasien dan kualitas peralatan medis. Di samping itu, peningkatan sarana dan prasarana juga semakin lebih baik ke depannya," jelas dr. Apin yang sudah delapan tahun berpraktik di Rumah Sehat untuk Jakarta --yang sebelumnya RSUD-- Pasar Rebo.
Ia menambahkan, Rumah Sehat untuk Jakarta Pasar Rebo dengan status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), dapat merencanakan, mengelola secara langsung pendapatannya, dan mengendalikan semua urusan internal secara lebih fleksibel. Tentunya dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Sementara itu, menurut epidemiolog Universitas Indonesia, Doktor Pandu Riono, penjenamaan Rumah Sehat untuk Jakarta dapat mengubah pola pikir masyarakat, agar tidak hanya berkunjung pada saat sakit, namun juga dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kualitas kesehatannya. Dengan demikian, masyarakat menjadikan kesehatan sebagai tujuan dan cara hidup.
“Selama ini paradigma rumah sakit kita berorientasi pada kuratif dan rehabilitatif, sehingga orang datang karena sakit dan ingin sembuh. Datanglah ke rumah sakit untuk sembuh, padahal untuk sembuh harus sakit dulu. Karena itu Rumah Sehat ini perannya ditambah, yakni aspek promotif dan preventif,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Rumah Sehat untuk Jakarta mengembangkan konsep layanan promotif dan preventif yang berkesinambungan. Di samping itu, perubahan logo juga bertujuan sebagai kesatuan identitas bagi fasilitas-fasilitas kesehatan milik DKI Jakarta.
"Penjenamaan itu dilakukan untuk mengubah pola pikir (mindset) warga tentang rumah sakit. Dengan penggantian itu, rumah sakit diharapkan tidak hanya didatangi saat dalam keadaan sakit saja, melainkan juga ketika dalam kondisi sehat. Misalnya, ada orang yang ingin menurunkan berat badan. Kan bisa datang juga ke Rumah Sehat untuk Jakarta, agar lebih sehat dan mencapai berat badan yang proporsional," imbuhnya.
Pada peluncuran penjenamaan Rumah Sehat untuk Jakarta di RSUD Cengkareng, Rabu (3/8/2022), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berharap, penjenamaan ini akan mengubah mindset masyarakat terhadap rumah sakit. Yang sebelumnya berorientasi dari sakit untuk sembuh, setelah diubah menjadi rumah sehat akan menjadi sehat dan lebih sehat lagi melalui berbagai treatment.
“Jadi datang ke rumah sehat untuk menjadi sehat dan lebih sehat. Mulai melakukan medical and mental health check up, vaksinasi dan imunisasi, serta berbagai kegiatan yang bersifat promotif preventif lainnya. Sehingga rumah sehat ini dirancang benar-benar membuat kita berorientasi pada hidup sehat, bukan sekadar berorientasi sembuh dari sakit,” paparnya.
Anies berharap, dengan penjenamaan ini, masyarakat akan memandang rumah sehat dengan cara pandang berbeda. Melalui penjenamaan ini pula, percakapan di rumah-rumah diharapkan akan berbicara tentang sehat, bukan sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, menjelaskan, Rumah Sehat untuk Jakarta hadir dengan warna dan desain logo yang baru. Diharapkan pembaruan ini dapat menjadi wajah baru bagi pelayanan kesehatan rujukan di DKI Jakarta. Tentu hal ini harus didukung dengan pembentukan profesionalisme seluruh sumber daya manusia (SDM) untuk lebih memberikan pelayanan yang optimal.
“Rumah Sehat untuk Jakarta merupakan sebuah penjenamaan layanan kesehatan milik Pemprov DKI Jakarta yang sebelumnya merupakan 31 RSUD. Sebelumnya, kita memiliki logo yang berbeda-beda, lalu menjadi satu logo yang sama. Logo penjenamaan Rumah Sehat untuk Jakarta terinspirasi dari kelopak bunga melati gambir, salah satu bunga khas Jakarta yang tidak hanya indah, namun juga memiliki manfaat kesehatan sebagai obat,” jelasnya.
Widyastuti menambahkan, penjenamaan Rumah Sehat untuk Jakarta merupakan komitmen mewujudkan transformasi layanan kesehatan, termasuk di antaranya transformasi digital. Dalam melaksanakan transformasi digital, Dinas Kesehatan DKI Jakarta berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengintegrasikan Rekam Medik Elektronik dalam platform SATU SEHAT.
Platform ini membuka jalan untuk mewujudkan Integrasi Rekam Medik Elektronik di seluruh fasilitas kesehatan milik Pemprov DKI Jakarta.
Selain memenuhi kebutuhan kesehatan perorangan dengan menyajikan fitur pendaftaran online, Dinas Kesehatan pun memfasilitasi warga Jakarta dengan berbagai fitur layanan kesehatan berbasis masyarakat, seperti skrining penyakit tidak menular, skrining kesehatan jiwa, skrining calon pengantin, pencatatan imunisasi, serta informasi dan edukasi lainnya yang terintegrasi di dalam satu platform JakSehat.
Dengan perubahan nama tersebut, Rumah Sehat untuk Jakarta dapat lebih berperan dalam aspek promotif dan preventif. Dengan demikian, mereka yang datang ke Rumah Sehat adalah bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dirinya.
Rumah Sehat untuk Jakarta dirancang untuk benar-benar membuat orang lebih berorientasi pada hidup yang sehat, bukan sekedar untuk sembuh dari sakit. Karena itulah kemudian konsepnya disusun sedemikian rupa, sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat Jakarta.
(Agustina Wulandari )