Pengalaman pahit itu tak membuat Soekarno jera dalam memikat hati Mien Hessels.
Ia berkata, "Tuhan menciptakan wanita penuh dengan keindahan. Saya kira setiap laki-laki normal senang melihat keindahan yang ada pada diri wanita," tuturnya.
Namun demikian, Soekarno tetap memperhatikan pendidikannya. la sadar bahwa pendidikan adalah faktor penting bagi kehidupannya dan masa depannya.
Bertahun-tahun kemudian keyakinannya ini pula yang mengantarkannya menjadi pemimpin bangsa Indonesia.
Pada 1915, Soekarno menyelesaikan pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) dan berhasil melanjutkan ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya.
(Arief Setyadi )