Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kerja sama dan Promosi UMI, Prof Hattah Fattah, mengatakan sektor pendidikan bisa menjadi wahana untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan bahaya ekstremisme dan radikalisme. Namun, di sisi lain, lembaga pendidikan juga bisa menjadi lahan subur untuk mengembangkan paham-paham radikalisme.
“Bagaimana menjaga lembaga pendidikan agar tidak terkooptasi pemikiran radikalisme itu menjadi tantangan kita bersama,” kata Prof Hattah.
Hatta mengatakan, sekalipun UMI merupakan lembaga pendidikan dakwah berciri khas Islam, tetap tidak pernah menolak mahasiswa non-Muslim. UMI juga menanamkan paham Islam Rahmatan Lil Alamin lewat konsep maupun praktik nyata di Pesantren Darul Mukhlisin, Padang Lampe, Sulawesi Selatan.
Sedikit tapi Militan
Staf Ahli pada Satgas Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Muhammad Suaib Tahir, mengatakan narasi yang dikembangkan oleh kelompok ekstrimis jauh lebih produktif dan efektif dibandingkan narasi dari kelompok moderat.
“Mereka (kalangan ekstrimis) sangat militan, meskipun sebenarnya jumlahnya sedikit tapi mendominasi di media sosial,” kata Suaib.
Situasi itu telah berhasil mempengaruhi kalangan muda. Menurut Suaib, BNPT dalam wawancara dengan sejumlah calon karyawan BUMN, beberapa anak muda yang baru lulus kuliah atau tamat SMA menyatakan akan mengikuti pandangan ustadnya jika diminta pergi berjihad ke Suriah.
“Beberapa waktu lalu, saya ditelepon keluarga di Indonesia untuk menyampaikan bagaimana kami bisa memulangkan anak-anak mereka yang masih muda di Suriah karena tertahan tidak bisa kembali ke Indonesia. Mereka terpengaruh media sosial,” ujar Suaib.