Berbagi Ingatan Tragedi 65 lewat Lagu hingga Seni

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 06:05 WIB
Berbagi ingatan tragedi G30S/PKI dalam lagu hingga seni.
Share :

Lagu-lagu karya tapol di tahanan

Hal yang istimewa dari paduan suara ini adalah lagu-lagu yang mereka nyanyikan merupakan lagu karya para tapol selama dalam penjara.

Uchi mengungkapkan, lagu-lagu itu sudah dikumpulkan oleh sesama anggota Dialita, Utati Koesalah - yang menjadi tapol tahanan politik tanpa proses pengadilan - sejak 2000.

"Kita belum tau mau diapain, tapi kalau sudah dikumpulkan, mungkin suatu saat ada orang-orang muda bisa menyanyikan lagu-lagu ini dan bisa dikenal bahwa ibu-ibu di dalam juga berkarya."

Salah satu lagu dengan lirik menyentuh yang dinyanyikan Dialita adalah lagu Ujian.

Mudjiati, yang juga bergabung dalam paduan suara tersebut, mengisahkan sejarah lagu itu bermula ketika ia dan Utati ditahan di penjara Bukit Duri.

Karena usianya pada saat itu masih belia dan jauh dari orang tua, ia kerap merindukan ayah dan ibunya. Bersama kawan-kawan tapol sebayanya, ia kerap berbagi tangis di kala rindu dan lapar mendera.

"Ibu-ibu ini ada yang mau menghibur kita, mau ngajak kita supaya kita jangan putus asa, terjadilah itu dibuatkan sajak, dijadikan lagu untuk memberikan kita kekuatan, yaitu lagu Ujian."

Mudjiati mengatakan, Ujian diciptakan oleh Siti Yus Zubairah, seorang guru yang juga bernasib sama seperti tapol perempuan yang lain, ditahan tanpa proses pengadilan.

Lagu itu menjadi pembuka album pertama yang dirilis pada 2016. Ketika latihan bernyanyi dan pentas, Dialita dibantu oleh Martin Lapanguli — yang turut diasingkan ke Pulau Buru — sebagai pelatih dan konduktor.

Martin Lapanguli meninggal pada Agustus 2021 lalu.

'Perjumpaan dengan generasi muda'

Selama beberapa tahun terakhir, sebelum pandemi, Dialita kerap menggelar konser di sejumlah daerah, termasuk berkolaborasi dengan musisi muda seperti Bonita, Frau dan Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca.

Dituturkan Uchi, pentas mereka di Jogja Biennale pada 2015 menjadi "titik balik" dari suatu perjumpaan.

"Itu sebuah titik ketika Dialita bertemu, ada perjumpaan Dialita dengan orang muda, yang orang muda ini bukan keluarga 65, bukan aktivis, tapi mereka adalah seniman, dan juga mahasiswa.

"Perjumpaan itulah yang membuat Dialita itu menjadi berubah, tidak hanya aku ini korban, tapi Dialita menjadi sesuatu yang diterima oleh anak muda yang sama sekali tidak ngerti 65," katanya.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya