Berbagi Ingatan Tragedi 65 lewat Lagu hingga Seni

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 06:05 WIB
Berbagi ingatan tragedi G30S/PKI dalam lagu hingga seni.
Share :

Butuh tujuh tahun lamanya bagi Adrian untuk memungkasi buku foto yang ia beri judul 'Pemenang Kehidupan' ini.

Ada 20 potret para penyintas yang ia abadikan dengan kamera analog medium formatnya.

Utati dan Mudjiati, termasuk menjadi subjek dalam buku tersebut.

"Saya memberi 'label' para mbah ini winners of life, pemenang kehidupan, karena buat saya dengan jalan panjang para mbah ini membuat mereka menjadi winners of life."

Sutradara Fanny Chotimah, juga mengabadikan hari-hari terakhir eks tapol perempuan, Kaminah dan Kusdalini, dua sahabat yang bertemu di penjara sekitar setengah abad yang lalu karena dituding terlibat PKI.

Sama seperti yang lain, keduanya tak pernah menjalani proses pengadilan.

Oleh kritikus film Hikmat Darmawan, karya Fanny berhasil menguak sisi lain kehidupan para penyintas 65 dengan gaya observasional - salah satu metode dalam film dokumenter yang memerlukan pendekatan yang sangat intim dengan para subjek - sehingga mereka "sampai pada tahap tak sadar kamera".

Pendekatan ini, kata Hikmat, membuat pemirsa merasa "duduk bersama" dan "mengamati" para subjek dalam film itu.

Kepada BBC Indonesia, Fanny berharap karyanya bisa menjadi "tambahan informasi" dan "ruang diskusi" bagi generasi muda tentang Peristiwa 65.

"Mereka tidak ada ketakutan akan stigma. Mereka lebih mudah punya empati terhadap para penyintas dan itu semoga hal baik untuk mereka tetap Jas Merah, jangan melupakan sejarah.

"Jadi meskipun mereka tidak terimbas secara langsung tapi sejarah bangsa ini juga sejarah kita, semoga keingintahuannya masih tinggi untuk membicarakan itu, atau untuk mendukung para penyintas," kata Fanny.

'Berpacu dengan waktu'

Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, mengatakan upaya mentransformasikan pengetahuan tentang sejarah 65 ke generasi muda "sangat penting agar kita tidak lagi mengulangi sejarah kelam".

Di sisi lain, kata Ami, generasi saat ini "berpacu dengan waktu" sebab kebanyakan para penyintas kini sudah menginjak usia senja.

"Satu per satu semakin lupa akan apa yang terjadi dan kemudian meninggal. Sementara upaya-upaya untuk keadilan, kebenaran dan pemulihan, maupun rekonsiliasi itu belum dilakukan," ujar Ami.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya