Berbagi Ingatan Tragedi 65 lewat Lagu hingga Seni

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 06:05 WIB
Berbagi ingatan tragedi G30S/PKI dalam lagu hingga seni.
Share :

Lebih lanjut Uchi mengatakan, bagi para penyintas, menyanyi bisa "memulihkan diri dari trauma".

Sementara bagi pendengar, menurut Uchi, lagu Dialita "bisa memberi ruang" bagi generasi muda untuk mengenal Peristiwa 65 melalui lagu-lagu yang dinyanyikan.

"Pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak muda — tentu dari hati mereka — kenapa lagu itu diciptakan di penjara? Kenapa ibu-ibu dipenjarakan? Apa yang menjadi penyebabnya?"

"Pertanyaan-pertanyaan itulah ternyata setelah mendengar lagu-lagu Dialita menimbulkan sejumlah pertanyaan dan pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian anak-anak muda mencari tahu. Sudah banyak tersedia media sosial, kami tidak perlu menggurui," terang Uchi.

"Akhirnya kami punya kesimpulan bahwa melalui lagu-lagu itu lah kami bisa melakukan sebuah perlawanan dengan cara mungkin baru, karena sebelumnya melalui advokasi."

Diskusi untuk 'berbagi ingatan'

Seperti diungkapkan oleh Uchi, di media sosial, bermunculan kolektif sejumlah generasi muda yang menyuarakan narasi alternatif tentang 65, salah satunya adalah Warisan Ingatan.

Kolektif ini memanfaatkan platform webinar yang marak di tengah pandemi Covid-19, dengan mengundang penyintas sebagai pembicaranya.

Awalnya, diskusi daring ini dimaksudkan untuk "berbagi ingatan", kata Gloria Truly Estrelita, salah satu pencetus ide Warisan Ingatan, yang juga peneliti tentang 65.

"Dialog antar generasi, tujuannya begitu, makanya kenapa judulnya Warisan Ingatan, dan kenapa juga akhirnya kita bikin ruang seperti itu, karena memang untuk melengkapi apa [yang dilakukan] kawan-kawan yang lain yang sudah memulai pergerakan terkait isu ini," ujar Truly.

Kolektif lain adalah 1965 Setiap Hari yang menggunakan platform media sosial seperti siniar (podcast), instagram dan situs web untuk menggemakan narasi alternatif tentang 65. Indraswari Agnes aktif di dua kolektif tersebut.

"Kami di Warisan Ingatan dan 1965 Setiap Hari selalu bilang, kita semua itu korban propaganda Orde Baru, bukan cuma keluarga dalam sejarah doang, tapi kita semua itu korban, karena ada sejarah atau ada masa lalu negara ini yang dihilangkan, atau dianggap baik-baik saja," cetus Agnes.

Para pemenang kehidupan

Cara lain ditempuh oleh fotografer Adrian Mulya, yang mendedikasikan proyek fotonya untuk para perempuan penyintas 65.

"Saya tuh produk dari Orde Baru, lalu dalam pikiran saya ada rasa penasaran tentang Gerwani, karena hasil cuci otak Orde Baru masuk ke otak saya, gambaran Gerwani yang kejam dan segala macam," ujar Adrian.

Narasi sejarah yang ia dapat dari pemerintah Orde Baru runtuh kala Adrian berkenalan langsung dengan para perempuan penyintas 65.

Perjumpaan itu yang kemudian menginspirasinya membuat proyek fotografi mendokumentasikan para perempuan penyintas Peristiwa 65 di berbagai daerah.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya