Imbas Ledakan Jembatan Krimea, Putin Peringatkan Siapkan Serangan Lebih Dahsyat ke Ukraina

Susi Susanti, Jurnalis
Selasa 11 Oktober 2022 12:31 WIB
Ledakan di Jembatan Krimea, 3 orang meninggal (Foto: BBC)
Share :

RUSIA - Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan dia siap untuk mengizinkan serangan yang lebih "berat". Hal ini terkait dengan serangan mematikan ke sejumlah wilayah di Ukraina sebagai pembalasan atas ledakan jembatan Krimea yang terjadi pada Sabtu (8/10/2022). 

Sedangkan Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengatakan bahwa "episode pertama telah dimainkan. Akan ada episode lain".

Ukraina belum mengkonfirmasi siapa yang berada di balik serangan itu. Ihor Zhovka, Wakil kepala kantor Presiden Zelensky, mengatakan dia tidak sepenuhnya percaya bahwa serangan Rusia adalah pembalasan, seperti serangan ke Kyiv sebelumnya.

Baca juga: Balas Dendam Ledakan Jembatan Krimea, Putin: Rusia Lakukan Serangan Brutal ke Ukraina

Sementara itu, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko - sekutu dekat Presiden Putin - telah setuju untuk mengerahkan pasukannya untuk bergabung dengan tentara Rusia di perbatasan Belarusia dengan Ukraina sebagai tanggapan atas apa yang dia katakan sebagai ancaman bagi negaranya dari Kyiv.

Baca juga: Ledakan Jembatan Krimea, Penyelam Rusia Periksa Kerusakan 

"Kita perlu mencari tahu apa lagi yang perlu dilakukan untuk memperkuat keamanan negara kita, mengingat lingkungan yang berubah dengan cepat," katanya menurut komentar yang dimuat di kantor berita Belta yang dikelola negara.

Lukashenko, yang mengadakan pertemuan empat mata dengan Putin di St Petersburg, mengatakan bahwa dia telah diberitahu melalui saluran tidak resmi tentang "Jembatan Krimea 2" yang direncanakan untuk melawan Belarusia, mengacu pada ledakan yang terjadi pada Sabtu (8/10/2022) di jembatan utama yang menghubungkan Rusia dengan Krimea.

"Ukraina tidak hanya merenungkan, tetapi merencanakan serangan di wilayah Belarusia,” terangnya tanpa memberikan bukti apa pun.

Dia menambahkan bahwa Kyiv sedang "didorong oleh pelindung mereka untuk melancarkan perang melawan Belarusia" dan Rusia pada saat yang sama.

"Kami melihatnya, kami tahu itu, kami membuat kelompok taktis batalyon, kami berlatih pertahanan perbatasan selatan, yang kami lakukan sekarang," lanjutnya.

Lukashenko menjadi semakin bergantung pada Rusia untuk dukungan ekonomi, politik dan militer dalam beberapa tahun terakhir, dan pasukan Rusia menggunakan Belarusia sebagai pangkalan ketika memulai invasi ke Ukraina pada Februari lalu.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya