Mereka juga tengah menghadapi kemungkinan konflik terkait Taiwan, sekutu dekat AS yang diyakini Xi berada di bawah kendali Beijing.
Pada Rabu, (9/11/2022) Biden mengaku sudah dengan jelas menyatakan kepada Xi bahwa dirinya “mengharapkan persaingan, bukan konflik.”
Biden mengatakan mereka akan mendiskusikan Taiwan, namun menambahkan bahwa sikap AS terkait pulau itu “tidak berubah sama sekali sejak semula.”
Topik lainnya yaitu peningkatan uji rudal yang dilakukan Korea Utara, yang dinilai AS dan sekutunya sebagai ancaman yang semakin besar terhadap Asia Timur.
Washington ingin Beijing menekan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk menghentikan kegiatan tersebut dan menjalin perundingan denuklirisasi.
“Ini adalah sebuah bidang di mana China dan Amerika Serikat punya sejarah bekerja sama,” kata salah seorang pejabat senior pemerintah AS kepada wartawan.
Biden mengatakan pada Rabu bahwa ia ingin menjabarkan “satu per satu batasan kita, untuk memahami apa yang diyakini (Xi) menjadi kepentingan nasional utama China, apa yang menjadi kepentingan utama AS, dan untuk menentukan apakah itu semua saling bertentangan satu sama lain.”
“Dan jika memang bertentangan, bagaimana cara untuk mengatasi dan menuntaskannya,” tambahnya.
Pejabat pemerintahan Biden mengatakan tidak akan ada pernyataan bersama dari kedua pemimpin setelah pertemuan tersebut.
(Rahman Asmardika)