Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pertemuan Trump dan Xi Jinping Soroti Narasi Tantangan Jebakan Thucydides

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 22 Mei 2026 |12:30 WIB
Pertemuan Trump dan Xi Jinping Soroti Narasi Tantangan Jebakan Thucydides
Presiden China Xi Jinping menerima kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Beijing, 14 Mei 2026. (Foto; X/@Whitehouse)
A
A
A

JAKARTA - Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan lalu dipandang oleh banyak pengamat sebagai momen krusial dalam peta geopolitik global. Pertemuan ini mempertemukan dua gaya kepemimpinan yang berbeda. Di satu sisi, Presiden AS dengan pendekatan yang mengutamakan negosiasi transaksional dan demonstrasi kekuatan secara langsung—sebuah gaya yang sering dikaitkan dengan realisme politik yang memprioritaskan kepentingan nasional. Di sisi lain, Presiden Xi Jinping merepresentasikan pendekatan yang berfokus pada strategi jangka panjang dan perhitungan yang matang.

Meski jabat tangan dan diplomasi formal menjadi sorotan kamera, terdapat dinamika strategis yang mendasari hubungan kedua negara. Terdapat pandangan yang mengamati bahwa China cenderung menerapkan strategi "menunggu" dalam persaingan global. Alih-alih mengutamakan konfrontasi terbuka, strategi ini lebih berfokus pada penguatan kapasitas internal sambil memperhatikan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara Barat, seperti beban utang, polarisasi politik, dan penurunan basis industri domestik.

Persaingan dalam Era Globalisasi

China saat ini dipandang sebagai kompetitor yang telah berhasil meningkatkan pengaruhnya dalam sistem ekonomi global. Sementara negara-negara Barat selama beberapa dekade terakhir fokus pada integrasi ekonomi melalui globalisasi dan reformasi liberal, Beijing secara konsisten membangun basis industri dan mengamankan akses terhadap rantai pasok global. Bagi China, perkembangan ini merupakan bagian dari upaya pembangunan pengaruh ekonomi, sementara di sisi Barat, hal ini memicu perdebatan mengenai hilangnya kemandirian industri dan kerentanan keamanan energi.

Dilansir Brussels Signal, kontras ini menciptakan tantangan bagi stabilitas dunia, seperti "jebakan" yang diingatkan oleh sejarawan Yunani kuno Thucydides, di mana pertumbuhan kekuatan baru sering kali menimbulkan ketegangan dengan kekuatan yang sudah mapan, dapat memicu konflik bahkan perang. Namun, dalam konteks modern, tantangan ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup dimensi ekonomi, teknologi, dan infrastruktur. Persaingan kini bergeser pada kendali atas data digital, mineral langka, dan integrasi infrastruktur strategis.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement