Tas Olahan Sampah Tembus Pasar Ekspor, Wujud Ekonomi Biru di Pantura Jateng

Taufik Budi, Jurnalis
Jum'at 09 Desember 2022 17:41 WIB
Share :

Penghasil Sampah Terbesar

Banyaknya sampah plastik di laut mengundang keprihatinan. Pakar lingkungan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Dr. Denny Nugroho Sugianto, menyebut Indonesia menempati peringkat dua negara di dunia sebagai penghasil sampah terbesar.

“Produksi sampah yang kita tahu bersama itu kurang lebih sekitar 0,27 juta sampai 0,5 juta ton per tahun. Ini adalah suatu produk sampah yang luar biasa besarnya,” kata Denny.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip itu juga mengapresiasi program Blue Economy yang diluncurkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dari 5 program tersebut salah satunya adalah pengelolaan sampah di laut.

“Di program tersebut memang kita lihat ada satu program yang cukup unik yaitu Bulan Cinta Laut. Di mana dalam 1 tahun, selama sebulan nelayan diminta untuk tidak menangkap ikan. Kalau kami melihat dari sisi akademisi, ini cukup menarik dan merupakan terobosan. Masyarakat diminta untuk mengambil sampah di laut dalam satu bulan tersebut dan akan dihargai dengan harga ikan terendah ataupun ikan rata-rata yang ada yang pada saat penangkapan,” jelas dia.

“Sehingga di sini seperti kita sedang healing. Manusia kan perlu healing, seperti yang sekarang lagi ngetren. Artinya bahwa ada masa di mana kita berharap ada suatu aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat kaitannya dengan pengelolaan sampah di laut,” lanjut dia.

Oleh karenanya, perlu gerakan bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk mengurangi sampah laut. Termasuk pengolahan sampah laut yang memperhatikan prinsip circular economy.

“Pemanfaatan sampah yang ada di laut tentunya kembali lagi kalau kita menggunakan prinsip circular economy. Jadi pemanfaatan sampah laut itu harusnya zero waste. Misalkan plastik kita olah lagi menjadi barang-barang yang bermanfaat bagi masyarakat dan menghasilkan nilai produktivitas atau nilai ekonomi,” terangnya.

“Jadi blue economy itu tidak terlepas dari juga peran dari masyarakat di dalamnya adalah stakeholder. Ekonomi sirkular ini merupakan salah satu ekonomi yang digagas dari perpaduan green economy dan blue economy. Jadi pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan kemudian memanfaatkan energi baru yang terbarukan, ini menjadi salah satu hal kunci ke depan,” ujarnya.

Dia menegaskan, masa depan Indonesia sebagai negara maritim bergantung pada laut. Sehingga, pengelolaan sumber daya dari darat, pantai, sampai ke laut harus menjadi satu bagian yang terintegrasi.

“Aada satu program juga atau suatu langkah yang sudah dilakukan oleh pemerintah saat ini seperti ICZR (integrated costal zone management). Ini adalah salah satu program atau salah satu wujud kepedulian bahwa implementasi dari pembangunan berkelanjutan ini menjadi salah satu bagian juga terkait dengan integrated costal zone management,” bebernya lagi.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, saat berkunjung ke Undip Semarang, juga mensosialisasikan lima program Blue Economy. Lima program itu meliputi perluasan kawasan konservasi, penerapan kebijakan penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan perikanan budidaya ramah lingkungan, pengelolaan berkelanjutan pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pengelolaan sampah plastik di laut.

“Suatu gerakan pesan yang kita sampaikan kepada dunia, kita sebut sebagai Bulan Cinta Laut. Ketika seluruh negara komplain soal sampah plastik di laut. Itu adalah sampah yang sangat berbahaya karena dia bisa menjadi mikroplastik yang dimakan oleh ikan dan itu berbahaya buat konsumsi umat manusia. Padahal yang namanya plastik tidak hanya dari Indonesia tapi juga seluruh dunia, bisa jadi ngumpulnya salah satunya di Indonesia karena putaran arus (laut) di situ,” terang Trenggono.

“Jadi inisiasi (Bulan Cinta Laut) juga untuk disosialisasi oleh para Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan di seluruh Indonesia ini akan bagus. Kita bersama-sama, dan ini akan kita sampaikan kepada dunia bahwa Indonesia serius dalam menangani sampah di laut,” kata pria kelahiran Semarang itu.

“Itu yang sudah dijanjikan oleh Bapak Presiden, akan mengurangi sampah laut sampai 70% di 2025. Ini adalah kegiatan yang konkret yang bisa dilakukan. Harapannya seluruh dunia akan mengikuti, paling tidak mencegah supaya pembuangan sampah ke laut bisa dicegah di awal ketika ada di darat,” pungkasnya.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya