"Begitu mereka membaca artikelnya, mereka melihat bahwa dialah satu-satunya yang menulis kebenaran. Grossman akan mengunjungi mereka di parit dan mengingat semua yang mereka katakana,” lanjutnya.
Tapi dia masih terkekang. Kita dapat melihatnya pada hari ini dalam novel pertamanya, Stalingrad, yang diterbitkan pada 1952 dan disensor ketika membahas seputar kekejaman Tentara Merah. Usai perang, tulisannya kemudian dibuat beberapa seri.
Saat menulis 'Stalingrad', dan selama berada di garis depan, Grossman mengatakan bahwa dia hanya bisa membaca satu buku, yaitu 'War and Peace' karya Leo Tolstoy.
Ketika perang selesai, dia mulai menulis lagi. Jelas dari ukuran dan judul 'Life and Fate', Grossman ingin berempati atas penderitaan yang ada di sekelilingnya. Karyanya ini kemudian dibanding-bandingkan dengan karya klasik Tolstoy tersebut.
Perbedaannya, Tolstoy tidak mengalami invasi Napoleon ke Rusia, dan novelnya berfokus pada para elit di St Petersburg dan Moskow.
Bukunya sebagian besar adalah kisah para pangeran, puteri, bangsawan, diplomat, dan jenderal.
Adapun 'Life and Fate' adalah kisah ibu-ibu, para ayah, anak-anak perempuan serta bocah laki-laki.
Hitler, Eichmann, dan Stalin juga ada di sana, tetapi sebagian besar dari mereka kebanyakan sebagai latar belakang yang tampil buruk.
Artinya, para pemimpin itu selalu hadir, tetapi sebagian besar jauh dan selalu terlepas dari konsekuensi perintah atau kebijakan mereka.
Di antara pembaca dan kehadiran para tiran yang menjulang, kami menemukan potret orang-orang yang terjebak dalam baku tembak.