Mengungkap Bencana Hidrometeorologi seperti Banjir dan Longsor yang Sering Melanda Indonesia

Binti Mufarida, Jurnalis
Rabu 14 Desember 2022 19:30 WIB
Banjir (Foto: Dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Bencana hidrometeorologi menjadi satu fenomena yang saat ini sering terdengar oleh masyarakat Indonesia. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bencana hidrometeorologi adalah fenomena bencana alam atau proses merusak yang terjadi di atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), atau lautan (oseanografi).

BMKG menyebut bencana hidrometeorologi dapat menyebabkan hilangnya nyawa, cedera atau dampak kesehatan lainnya, kerusakan harta benda, hilangnya mata pencaharian dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan. Beberapa contoh bencana hidrometeorologi di antaranya curah hujan ekstrem, angin kencang, tanah longsor, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, puting beliung.

BACA JUGA:5 Daerah Aman dari Bencana Alam di Indonesia, Ada Makassar dan Batam 

Lalu, apa yang menjadi penyebab maraknya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang sering melanda Indonesia saat ini?

Menurut Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada, Muhammad Anggri Setiawan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor bisa melanda semua wilayah Indonesia.

Anggri mengatakan, salah satu penyebabnya yakni adanya triple dip La Nina. “Ada kemungkinan periode ini kita mengalami triple dip La Nina. Sudah dimulai sejak 2020 dan tahun 2022 ini. Musim hujan cenderung datang lebih awal. Kewaspadaan lebih ditingkatkan untuk bencana hidrometeorologis seperti banjir luapan sungai, banjir bandang, longsor, angin kencang di semua wilayah Indonesia,” kata Anggri dalam keterangannya, Rabu (14/12/2022).

 BACA JUGA:5 Mitos Jawa Terkait Bencana dari Murka Penunggu Laut hingga Wabah Penyakit

Selain itu, Anggri mengatakan, adanya kenaikan curah hujan baik di hulu sungai atau tingginya curah hujan di perkotaan juga bisa berisiko menyebabkan banjir. Oleh karena itu, maka hal itu menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk pemangku kepentingan dan warga masyarakat yang berisiko terkena dampak.

“Bencana tanggung jawab semua pihak, seluruh satuan kerja pemda yang dikoordinasi oleh BPBD harus mengaktifkan rencana kontingensi yang sudah disusun khususnya untuk tahapan siaga dan tanggap darurat,” ujarnya.

Bahkan, beberapa waktu lalu adanya ancaman fenomena La Nina “triple-dip" 2020-2023 (tiga tahun beruntun) tidak hanya di Indonesia tetap menjadi ancaman bagi banyak negara di dunia. Fenomena ini mengemuka pada saat agenda Mini Symposium 17th Annual Indonesia – U.S. BMKG – NOAA Partnership Workshop beberapa waktu lalu.

Kepala BMKG Dwikorita mengatakan, fenomena tersebut sebelumnya pernah terjadi dari 1973 -1975 serta 1998-2001. Fenomena ini akan berpengaruh terhadap pola cuaca - iklim di Indonesia. Salah satunya menyebabkan sebagian wilayah Indonesia mengalami musim hujan lebih awal.

Fenomena ini sudah dimulai pada pertengahan 2020 dan diprediksi akan tetap berlangsung hingga akhir tahun 2022 dan kemungkinan berlanjut hingga awal tahun 2023, sehingga dinamai “Triple Dip”.

“Triple Dip La Nina adalah fenomena unik. Masyarakat dan pemerintah pusat hingga daerah perlu mewaspadai terjadinya bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, bandang, angin kencang, cuaca ekstrem, tanah longsor, dan lain sebagainya,” tutur Dwikorita.

Dwikorita mengatakan, hal ini akan mempengaruhi, pola cuaca La Nina adalah salah satu dari tiga fase El Nino Southern Oscillation (ENSO). Ini mengacu pada suhu permukaan laut dan arah angin di Pasifik dan dapat beralih antara fase hangat yang disebut El Nino, fase yang lebih dingin dengan sebutan La Nina, dan fase netral.

Fenomena La Nina ini, kata Dwikorita, yang akan membawa dampak peningkatan curah hujan di banyak tempat di Indonesia, meski sebenarnya dampak La Nina tidak pernah sama karena dipengaruhi faktor lainnya. “Yang perlu juga diwaspadai adalah penyakit yang biasa muncul di musim hujan, mulai dari diare, demam berdarah, Leptospirosis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, dan lain sebagainya. Semua harus bersiap,” imbuhnya.

Berikut ini contoh-contoh bencana Hidrometeorologi:

1. Curah Hujan Ekstrem

Curah hujan adalah curah hujan yang jatuh di suatu lokasi tertentu dengan intensitas tinggi melebihi batas atas curah hujan biasanya dalam waktu tertentu (menit, jam, hari, bulan). Curah hujan ekstrem dipicu oleh pertumbuhan awan konventif (cumulonimbus) yang masif dan mencapai atmosfer yang tinggi. Selain curah hujan intensitas tinggi, awan cumulonimbus juga umumnya dapat disertai golakan angin kencang, hujan es dan potensi puting beliung.

2. Angin Kencang

Angin kencang adalah naiknya kecepatan angin lebih dari 27,8 km/jam dari wilayah dengan tekanan udara yang lebih tinggi ke wilayah dengan tekanan udara yang lebih rendah. Apabila terjadi secara tiba-tiba atau mendadak yang berangsung hujan beberapa detik atau menit maka disebut sebagai gusty yang berkaitan dengan pertumbuhan awan cumulonimbus.

3. Banjir

Banjir adalah luapan air yang merendam tanah yang biasanya kering. Banjir dapat terjadi sebagai limpahan air dari badan air, seperti sungai, danau, atau laut, di mana air melewati atau memecah tanggul, yang mengakibatkan sebagian air keluar dari batas atau mungkin terjadi karena akumulasi air hujan di tanah yang sudah jenuh.

4. Longsor

Tanah longsor terjadi di lingkungan, yang ditandai oleh kemiringan lereng yang curam atau landai dengan sudut tertentu, pegunungan hingga tebing pantai atau di dasar laut. Dalam banyak kasus, tanah longsor dipicu oleh peristiwa tertentu (seperti hujan lebat, gempa bumi, lereng miring untuk membangun jalan, dan banyak lainnya).

5. Kekeringan

Kekeringan adalah defisit curah hujan pada suatu wilayah dalam periode tertentu. Hal ini juga dapat menyebabkan penurunan kelembaban tanah yang menyebabkan kerusakan tanaman. Dampaknya dapat dirasakan di beberapa sektor seperti sektor pertanian, sosial dan ekonomi.

6. Kebakaran Hutan dan Lahan

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) adalah penurunan terbakarnya banyak pohon, semak, paku-pakuan dan rumput di suatu wilayah. Penyebab dari Karhutla bisa karena faktor (kekeringan, musim kemarau yang berkepanjangan da sambaran petir) serta bisa karena faktor ulah manusia (pembakaran hutan secara sengaja untuk membuka la membuang puntung rokok dan membakar sampah di dek hutan). Di Indonesia, 95% karhutla disebabkan oleh ulah manusia.

7. Puting Beliung

Puting beliung adalah angin angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit hingga beberapa menit. Angin puting beliung umumnya terjadi pada siang hingga sore hari pada pergantian musim hujan ke musim kemarau (pancaroba).

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya