Pada Februari lalu, Indonesia menandatangani perjanjian dengan Prancis untuk berkolaborasi dalam pembangunan dua kapal selam Scorpène. Kapal bawah air dilaporkan sangat baik dalam menghindari pengamatan, sangat cepat, dan mampu melakukan misi seperti perang kapal anti-permukaan dan serangan jarak jauh.
Sementara itu, Ian Storey, rekan senior di Institut ISEAS-Yusof Ishak di Singapura, mengatakan ada alasan strategis yang memaksa untuk mengoperasikan kapal selam bagi negara-negara seperti Vietnam, yang terkunci dalam sengketa teritorial jangka panjang dengan China.
“Enam kapal selam Vietnam akan membuat China berpikir dua kali sebelum mencoba menduduki atol Vietnam di Laut China Selatan,” terangnya.
“Dan [jika] konflik pecah, kapal selam itu akan memungkinkan Angkatan Laut Vietnam untuk melarang dan menenggelamkan kapal perang Tiongkok,” lanjutnya.
Pada 2009, Vietnam membeli enam kapal selam kelas Kilo senilai USD2 miliar dari Rusia, menjadikannya armada kapal selam terbesar di Asia Tenggara.
Tapi untuk negara lain seperti Thailand, Storey mengatakan itu hanyalah “kasus mengikuti tetangga”.
Pada 2017, Thailand menandatangani kesepakatan dengan China untuk membeli tiga kapal selam kelas Yuan, tetapi pengembang kapal selam milik negara China tidak dapat memperoleh mesin diesel yang diperlukan dari Jerman karena embargo senjata Uni Eropa (UE) yang diberlakukan di Beijing.