JAKARTA - Pada dini hari tadi terjadi gempa dahsyat yang menggetarkan Laut Banda sekira pukul 00.47 WIB, Selasa (10/1/2023).
Gempa ini berpusat di tengah laut hingga terasa di wilayaH Maluku. Awal mulanya BMKG mencatat kekuatan gempa tersebut mencapai M 7,9 namun kemudian diperbarui menjadi M 7,5.
BMKG juga telah mengeluarkan peringata bahaya potensi wilayah di Kota Ambon, Kepulauan Maluku, hingga ke wilayah Sulawesi Tenggara.
Kota Ambon dan sejumlah wilayah di Kepulauan Maluku masuk dalam status siaga tsunami dan peringatan dini tsunami akibat gempa berakhir pada pukul 03.43 WIB.
Kejadian seripa pernah terjadi pada 349 tahun yang lalu. Gempa yang hingga menyebabkan tsunami dahsyat perrnah memporakporandakan Ambon dan wilayah sekitarnya pada 17 Februari 1674.
Budi Assaudi dalam tulisannya berjudul 'Tsunami Puluhan Meter Melanda Maluku 346 Tahun Lalu' yang diterbitkan pada 17 Februari 2020, mengungkapkan gempa disusul tsunami dari Laut Banda itu tertuang dalam catatan ilmuwan Eropa yang pernah tinggal di Ambon, Georg Everhard Rumphius (1627-1702).
Gempa tersebut mengakibatkan kerusakan rumah warga dan menelan korban jiwa yang diperkirakan mencapai 2.500 orang.
Budi Assaudi juga menyebutkan bahwa gempa terjadi sekira pukul 19.30 - 20.00 waktu setempat dan bertepatan dengan suasana perayaan Tahun Baru China yang berlangsung meriah di sekitar pasar.
"Guncangan dahsyat dari gempa tersebut, melanda seluruh Pulau Ambon, dan pulau-pulau di sekitarnya. Akibatnya, sebanyak 86 orang tewas tertimpa runtuhan bangunan, dan rumah-rumah yang terbuat dari batu mengalami banyak retakan, sehingga tidak bisa digunakan lagi," tulis Budi Assaudi dikutip dari laman BNPB.
Kejadian mengerikan menyusul kemudian, usai gempa dahsyat tersebut terjadi. Yakni, terjadi gelombang pasang di seluruh pesisir Pulau Ambon.
Pesisir utara di Semenanjung Hitu, menderita kerusakan yang paling parah, terutama di daerah Ceyt di antara Negeri Lima dan Hile.
Di daerah ini air naik setinggi 40-50 toises atau sekitar 70–90 meter. Ilmuwan Eropa, Georg Everhard Rumphius menjadi salah satu saksi bencana dahsyat yang melanda Ambon, kala itu.
Istri dan anak Georg Everhard Rumphius, menjadi bagian dari 2.500 korban tewas.
Catatan Georg Everhard Rumphius tersebut, merupakan sebagian dari catatan sejarah gempa dan tsunami terkait bencana rapid onset yang pernah terjadi dan paling mematikan di Maluku serta wilayah sekitarnya.
Dalam tulisannya, Budi Assaudi juga menyebutkan, gempa dan tsunami juga pernah melanda wilayah Ambon, pada Minggu (8/10/1950) pada pukul 12.23 waktu setempat.
Sayangnya, dokumentasi kejadian bencana tersebut sangat terbatas, karena situasi geopolitik terkait konflik TNI dengan RMS.
"Hanya catatan kecil yang ada di beberapa surat kabar nasional dan internasional. Selain berita, gempa dan tsunami juga tercatat di arsip United States Geological Survey (USGS)," tulis Budi Assaudi.
Lokasi gempa disebutkan, berada di kordinat 4,199 Lintang Selatan (LS), dan 128.233 Bujur Timur (BT) pada kedalaman 20 Km dengan magnitudo 7,3.
Dampak gempa dan tsunami Ambon tahun 1950 dimuat di beberapa surat kabar nasional. Di mana disebutkan dalam sejumlah pemberitaan, ada dua kota di Ambon yang porak poranda akibat gempa dan tsunami.
Gempa disertai gelombang tsunami dengan ketinggian 40 meter, menyapu pesisir pantai hingga sejauh 200 meter.
Budi Assaudi dalam tulisannya menyebutkan, sejumlah saksi hidup bencana gempa dan tsunami yang menerjang Abon, pada 8 Oktober 1950, yang diwawancara pada medio Agustus 2015, menyebutkan saat itu gempa bumi terjadi sebanyak tiga kali yang disertai tiga kali suara gemuruh, dan tiga gelombang tsunami.
Tiga desa yang terdampak gempa dahsyat dan tsunami pada 8 Oktober 1950 adalah Hutumuri, Hative Kecil, dan Galala.
Gempa dan tsunami dahsyat, tercatat juga pernah terjadi pada tahun 1629 di Pulau Seram. Dalam tulisan tersebut, Budi Assaudi juga menyebutkan, Laut Banda dan pulau-pulau di sekitarnya, khususnya Provinsi Maluku, merupakan wilayah yang berada di pertemuan tiga lempeng bumi.
Yakni lempeng Eurasia, Pasifik dan Australia.
"Pertemuan lempeng-lempeng tersebut, menyebabkan intensitas kejadian gempa sangat aktif dan sangat rawan. Ahli gempa bumi dan tsunami di dalam dan luar negeri, telah melakukan berbagai penelitian gempa bumi dan tsunami di Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Maluku Utara," tulis Budi Assaudi.
BMKG, bersama Universitas Hasanuddin, juga telah melakukan penelitian sumber gempa bumi Maluku, atas dasar catatan sejarah gempa bumi dan tsunami, kondisi geoteknologi dangeografis kepulauan di Maluku. Pulau Seram dan sekitarnya teridentifikasi memiliki pergerakan aktif sesar strike-slip sebagai akibat dari "Banda Opening" secara ekstensional. Saat ini lempeng di wilayah tersebut sudah mencapai "Weber Deep" ketika jejak mundur ekstensionalnya berpotensi menghasilkan strike-slip.
Berdasarkan kajian terkini, salah satu segmen lempengnya ditengarai berada di sekitar Pulau Ambon, di mana Banda opening crust telah membentuk oceanic crust dan terus melebar hingga Weber Deep1.
Ada potensi besar gempa tektonik dalam skala besar di Pulau Seram dan sekitarnya, namun segmen-segmen yangada membentuk dilatasi sebagai media pelepasan energinya.
Kondisi ini menyebabkan wilayah tersebut tak pernah sepi akan kejadian gempa bumi.
"Bila mencermati mekanisme sumber gempanya, Pulau Seram dan sekitarnya merupakan zona sesar strike-slip sebagai akibat detachment atau bergesernya lempeng dan sangat mungkin sesar naik juga ada. Ini tercermin dari data-data mekanisme sumber gempa bumi sebelumnya. Namun secara keseluruhan wilayah itu merupakan zona potensi sesar geser," tulis Budi Assaudi.
(Natalia Bulan)