Dr Masri adalah seorang ahli bedah di Rumah Sakit Al-Shifa, yang disokong oleh Syrian American Medical Society (SAMS), sebuah lembaga amal. Dia mengatakan pihaknya menerima lebih dari 200 pasien segera setelah bencana.
Penyintas muda lainnya yang dibawa oleh regu penyelamat adalah seorang anak laki-laki berusia 18 bulan.
Dr Masri memeriksanya dan memastikan dia baik-baik saja. Tetapi sang dokter kemudian menyadari bahwa orang tua bocah itu tidak bersamanya.
"Tiba-tiba, saya melihat ayahnya berlari ke arahnya dan memeluknya, terisak dan menangis," katanya.
"Sang ayah mengatakan kepada saya bahwa anak ini adalah satu-satunya yang selamat di keluarganya. Anggota keluarga lainnya terbaring di koridor, tak bernyawa."
Dr Masri mengatakan para staf di rumah sakit tercengang dengan skala bencana, dengan "gelombang" pasien yang datang sekaligus.
"Saya tidak pernah membayangkan bahwa gempa bumi dapat menciptakan kerusakan sebanyak ini, dapat menyebabkan jumlah pasien sebanyak ini."
Sayangnya, dia sudah terbiasa menangani insiden besar.
Pada 2013, dia bekerja di rumah sakit lapangan ketika roket yang berisi agen saraf sarin ditembakkan ke beberapa daerah suburban yang dikuasai oposisi di pinggir ibu kota, Damaskus. Ratusan orang tewas dan ribuan lainnya terluka.
"Waktu itu, kami sudah dilatih dan dipersiapkan, sebagai dokter untuk peristiwa semacam itu," kata Dr Masri. "Kami mampu mengatur diri dengan cepat. Tapi dalam skenario ini kami tidak siap. Situasi ini jauh lebih buruk."