Le Pen tersebut mengulangi seruannya untuk membatalkan pengiriman "senjata ofensif" ke Ukraina karena bahaya yang mereka timbulkan dalam meningkatkan krisis.
“Pasokan senjata ofensif membuat kami khawatir, karena itu bisa menjadi elemen yang berkontribusi pada eskalasi konflik teritorial menjadi konflik global,” katanya.
Dia juga mendesak Prancis untuk memimpin pengorganisasian konferensi perdamaian, dan untuk mengambil bagian dalam mencari penyelesaian yang dirundingkan, termasuk dengan menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk datang ke meja perundingan.
Prancis telah mengirimkan peralatan militer senilai ratusan juta euro ke Kiev selama setahun terakhir, termasuk rudal anti-tank, anti-udara dan anti-kapal canggih, dan kendaraan tempur lapis baja. Sementara itu Presiden Emmanuel Macron berusaha memainkan peran sebagai negosiator perdamaian dan terlibat dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik.
Marine Le Pen menjadi runner up dalam pemilihan presiden tahun lalu di Prancis, dengan meraih sekitar 41,5 persen suara pada putaran kedua. Dia telah berulang kali mengkritik pengiriman senjata berat Prancis ke Ukraina, dan mengutuk sanksi Prancis yang "tidak pantas dan sembrono" terhadap Rusia di tengah melonjaknya harga energi global.
(Rahman Asmardika)