Cerita Jenderal Sarwo Edhie Wibowo Menolak Diusung Menjadi Calon Presiden

Faisal Haris, Jurnalis
Kamis 06 April 2023 04:14 WIB
Sarwo Edhie/Foto: Wikipedia
Share :

 

JAKARTA - Pada tahun 1978, suhu politik Indonesia mendekati titik didih karena masifnya demonstrasi yang menuntut kekuasaan Soeharto diakhiri. Di tengah hiruk-pikuk kondisi tersebut, nama Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo muncul untuk diusung sebagai calon presiden menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Mengutip buku seri Tempo berjudul "Sarwo Edhie dan Misteri 1965", pada Februari 1978, tiga mantan aktivis 1966 yakni Fahmi Idris (Pendiri Grup Kodel), Abdul Latief (Pendiri Grup Sarinah Jaya), dan Christianto Wibisono (Mantan Direktur Majalah Tempo) meminta Sarwo untuk menggantikan Soeharto sebagai presiden melalui Sidang Umum MPR.

 BACA JUGA:

Mereka bertiga pergi jauh-jauh ke Seoul pada musim dingin untuk menemui Sarwo, yang ketika itu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Korea Selatan. Menurut mereka tindakan itu tidak ditunggangi atau mewakili siapapun.

Diusungnya Sarwo menjadi calon presiden oleh ketiga mantan aktivis tersebut karena didasarkan pada kedekatan personal dan tingkat popularitas. Fahmi, yang sudah kenal dekat dengan Sarwo sejak 1965, menyorongkan mantan Komandan RPKAD itu sebagai calon presiden karena meyakini Sarwo masih cukup populer.

 BACA JUGA:

Namun, bujukan yang dilakukan ketiga mantan aktivis itu ditolak Sarwo.

"Beliau menolak dengan halus. Katanya, masih banyak senior militer yang lain," kata Fahmi.

Sarwo juga melihat tidak adanya kemungkinan dirinya berhasil menjadi presiden melalui Sidang Umum MPR 1978.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya