Sejarah Pembebasan Sandera Mapenduma, Upaya Mediasi Buntu Berujung Penyerbuan 400 Pasukan Elite

Tim Okezone, Jurnalis
Senin 17 April 2023 04:04 WIB
Korban penyanderaan Mapenduma. (Foto: Garuda Militer)
Share :

Namun celaka bagi berbagai soal tentang negosiasi dan mediasi itu. Simon Allom, juru bicara Kogoya dan Kwalik menyatakan tak akan menuruti perintah Moses. Mereka bahkan menyatakan akan membunuh para sandera apabila tuntutan-tuntutan mereka --termasuk melibatkan empat tokoh OPM dalam negosiasi-- tak dipenuhi.

Terbunuhnya 16 Orang di Pucuk Senjata Otomatis Letda Sanurip

Tanggal 16 Maret 1996, seorang sandera, Abraham Wanggai dibebaskan. Pasca pembebasan Abraham, sebuah kabar mengejutkan diberitakan. Hampir satu bulan sejak pembebasan Abraham, tepatnya 15 April 1996, Letda Sanurip yang bertugas dalam operasi pembebasan sandera di Mapenduma menembak mati 16 orang. Tiga perwira Kopassus, delapan pasukan Kostrad serta lima warga sipil tewas diberondong senjata otomatis sang letnan.

Berbagai versi menyebut alasan di balik penembakan yang dilakukan Letda Sanurip, mulai dari dirinya yang terjangkit malaria, stres hingga sakit hati pribadi. Entah apa alasan yang sebenarnya. Yang jelas, atas insiden itu, Letda Sanurip dijatuhi hukuman mati pada 23 April 1997.

Pada pekan kedua bulan Mei 1996, ICRC menyatakan mengundurkan diri dari agenda mediasi. Mereka mengaku tak dapat lagi bersikap netral. Sementara itu, salah satu helikopter yang mengawal tim ICRC dikabarkan jatuh setelah mengalami rusak mesin. Semua yang berada di heli itu tewas.

Setelah pasang surut mediasi yang dilakukan selama berbulan-bulan, pemerintah Indonesia memutuskan untuk bersikap tegas. Dengan izin dari otoritas tertinggi di Jakarta serta persetujuan dari Inggris, Belanda dan Jerman --sebagai negara yang terlibat dalam proses negosiasi, dikirimlah delapan helikopter jenis Bell 412 dan Bolco 105 milik Dinas Penerbang AD.

Di dalam heli, Brigjen Prabowo Subianto yang ketika itu menjabat Komandan Kopassus memimpin pasukan pemukul berbaret merah.

Dalam upaya penyerbuan yang pertama, pasukan pemukul gagal menemukan gerombolan yang dituju --para sandera dan penyandera. Satuan pemburu jejak yang telah menguntit pergerakan gerombolan selama berbulan-bulan mau tak mau harus mempertajam penciuman mereka.

Mereka kemudian berhasil menemukan keberadaan gerombolan dengan bantuan pesawat tanpa awak (RPVs) yang dilengkapi pemindai termal yang disewa dari Singapura.

"Sekarang ini tim sedang melakukan pengejaran GPK untuk memburu anggota GPK," kata Kasum ABRI Letjen Soeyono ketika itu.

Episode 129 hari penyanderaan itu diakhiri. Satu unit pemukul yang terdiri dari sembilan anggota Kopassus berhasil menghimpit gerombolan. Dari upaya ini, Kopassus berhasil menyelamatkan sembilan dari 11 sandera. Dua orang sandera lainnya, yakni Navy Panekenan dan Yosias Mathias Lasamuhu tewas dibacok OPM. Dari pihak OPM, delapan orang tewas dalam pertempuran jarak dekat, sedang dua lagi ditahan.

Operasi ini dirancang begitu matang. Dengan melibatkan kesatuan Marinir, Batalion 330 Kostrad dan Batalion Organik Kodam VIII Trikora sebagai pasukan penyekat. Pasukan ini stand by di titik-titik yang sudah ditentukan oleh geolog Wanadri, Tedy Kardin. Operasi pembebasan ini didukung oleh total 400 personel gabungan. Dari jumlah tersebut, lima orang tentara gugur akibat jatuhnya helikopter saat penyerbuan.

"Ini operasi gabungan yang melibatkan banyak kesatuan," ujar Prabowo.

(Qur'anul Hidayat)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya